Kado untuk Saki – Florence Elysia Gladys

Sudah jam 6 pagi. Aku langsung bangun dan membereskan tempat tidurku serta bersiap-siap sekolah, kemudian berangkat. Setelah sekolah, aku langsung berangkat ke Phoenix Wonderland untuk berlatih untuk pertunjukan teater. Siang ini begitu teriknya, matahari bersinar tak ada ampun, menyengat dan membakar kulitku. Aku berlatih gerakan dan dialog untuk pertunjukan selanjutnya di panggung Phoenix Wonderland. Kalau bukan karena Saki, aku tak akan melakukan semua ini. Tapi aku ingin membuat adikku tersenyum karena pertunjukanku, siapa tahu aku akan menjadi terkenal dan Saki bisa melihatku bermain di berbagai pertunjukan lewat layer kaca, kan? Jadi di siang yang panas ini aku harus memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemain teater di Phoenix Wonderland.

Saki adalah adikku yang sakit-sakitan. Dia sering keluar-masuk rumah sakit, namun keceriaannya dan optimismenya selalu membuatku semangat untuk berlatih dan tampil di berbagai pertunjukan. Orang tua kami sibuk mengurus Saki sejak kami masih kecil, sehingga mereka tidak bisa menghabiskan waktu bersamaku. Aku pun terpaksa harus mandiri di usia muda. Kasihan Saki, dia lahir dengan badan yang lemah sehingga tidak bisa bermain dan menghabiskan waktu Bersama teman-temannya, apalagi ketika mereka masih SMP dulu. Karena itu, aku ingin menjadi seorang pemain teater terkenal untuk membuat adikku bahagia.

“Agh!” Aku terpeleset saat sedang membawa barang perlengkapan dan kostum untuk pertunjukan teater. Untung barangnya tidak ada yang rusak. Kalau rusak, wah bisa sedih aku, karena semuanya dibeli dengan uangku sendiri. Beberapa lama kemudian, aku sampai di teater Phoenix Wonderland. Rui sudah menungguku di sana. “Oh, hey, Tsukasa! Sudah hafal dialog tang kemarin kita hafalin?” Tanya Rui. “Sudah dong! Tapi, aku ingin latihan sekali lagi supaya penampilanku sempurna!” Jawabku. “Sama, ini kostum dan perlengkapan buat pertunjukan selanjutnya. Nanti kamu sama Emu dan Nene patungan buat ini.” Tambahku. Kami pun melakukan gladi bersih untuk pertunjukan yang akan dilakukan besok. Besok adalah hari ulang tahun Saki dan aku ingin memberinya hadiah berupa pertunjukan yang meriah dan sempurna padanya.

Aku tiba di rumah jam 6 sore. Aku langsung mandi dan ganti baju. Setelah itu, aku menyapa Saki. “Hai Saki, gimana tadi di sekolah?” Sapaku. “Senang banget! Tadi aku ngerjain tugas kelompok bareng Ichika, Honami, sama Shiho! Habis sekolah, kami latihan band terus habis itu makan es krim bareng!” Jawab saki dengan senang. “Oh iya, sama karena besok ulang tahunku, aku mau ngasih kartu ini ke kakak!” Tambah Saki. Aku menerimanya dengan senang hati. Aku pun membaca isi kartu itu.

“Kak Tsukasa, makasih banyak sudah menemaniku selama ini! Aku selalu senang setiap kali kakak memainkan lagu-lagu di piano dan tampil di pertunjukan teater! Meski aku kadang gak bisa tampil langsung untuk menonton, tapi Saki tetap senang karena ada kakak! Pokoknya makasih banyak atas selama ini!”
– Saki

“HAHAHAH! Sama-sama, Saki! Karena besok ulang tahunmu, aku akan memberimu pertunjukan paling spesial yang akan kamu ingat selama hidupmu! Besok jangan lupa datang ke Phoenix Wonderland habis sekolah, ya! Ajak teman-temanmu kalau bisa!” Sahutku. “Oke kak, sip!” Jawab Saki. Kami kemudian makan malam bersama keluarga. Setelah itu, aku belajar untuk sekolah besok dan berlatih dialog dan gerakan di depan cermin untuk pertunjukan besok. Setelah itu, aku bersiap-siap untuk tidur.

Capeknya, dari tadi sore sampai malam aku terus berlatih dan memikirkan tentang pertunjukan besok. Tapi demi Saki, aku tetap mengejar mimpiku untuk menjadi pemain teater terkenal. Aku ingin melihat Saki dan semua orang tersenyum karena pertunjukan teaterku.

Setiap hari kehidupanku seperti ini. Ketika masih kecil, aku selalu menemani Saki di rumah sakit setelah pulang sekolah. Terkadang aku juga memainkan lagu seperti Twinkle Twinkle Little Star dengan piano untuknya. Sekarang, aku pergi sekolah, sore sampai senja berlatih dan bermain teater bersama kawan rombonganku, malamnya aku belajar dan berlatih gerakan serta dialog teater setelah makan. Kadang, aku terlibat dalam kegiatan sekolah di luar KBM.

Setiap hari aku harus bertanggung jawab atas adikku dan teman rekanku, mulai dari Rui yang selalu membuat kerusuhan dengan robot aneh buatannya, Emu yang selalu hiperaktif, dan Nene yang sangat pemalu. Tapi, aku tetap sayang sama mereka. Meski adikku lahir sakit-sakitan dan aku punya teman seperti ini, aku tidak menyesal. Aku punya teman-teman dan keluarga yang selalu mendukungku.

Keesokan harinya setelah sekolah, aku pergi ke tempat biasa. Setelah ada di sana, aku dan teman rekanku langsung mempersiapkan diri untuk pertunjukan itu. Setelah itu, aku bertanya kepada Rui. “Rui, kamu bawa drone buat merekam pertunjukan kita buat jaga-jaga kalau adikku tidak datang, kan?” Tanyaku. “Tentu saja! Aku akan meminta petugas untuk mengontrol dronenya dan merekam pertunjukan kita.” Jawab Rui. “Baguslah. SAKI, AKAN KUBERIKAN PERUTUNJUKAN PALING MERIAH YANG AKAN KAU INGAT DARI SANG BINTANG MASA DEPAN DUNIA ITU SENDIRI, TSUKASA TENMA!!!” Teriakku dengan semangat. Rui terlihat senang padaku.

Sore itu, pertunjukan berjalan dengan meriah. Kami melakukan pertunjukan tentang The Little Mermaid. Ada banyak sekali orang yang menontonnya, termasuk Saki dan teman-temannya. Pertunjukan berakhir jam setengah 8 malam. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak bahagia menonton pertunjukan kami. Aku merasa sangat bangga dan bahagia karena itu.

“Pak Tenma, ini ada surat dari perusahaan Double Edge Theatre. Mereka sudah menerima surat permintaan anda untuk memerankan karakter utama. Dan juga, tamu undangan makan malam anda sudah datang serta Ibu Saki sudah ingin bertemu dengan Anda. Silakan Anda mempersiapkan diri. Saya tunggu di ruang seperti biasa.” Buyar sudah lamunanku karena asisten pribadiku memanggilku. Aku langsung mengiyakan ucapan asistenku sambil tersenyum dan segera mempersiapkan diri. “Baik pak, saya akan segera ke sana.” Jawabku.

“Tsukasa Tenma, sang bintang masa depan dunia!” Sloganku telah menjadi kenyataan. Kini, aku sudah menjadi pemain teater dan pianis terkenal. Sangat terkenal malah, karena aku sudah bermain teater di berbagai negara dan musikku digemari banyak orang. Adikku sekarang sudah menjadi pianis terkenal yang kadang bekerja sama denganku untuk menghasilkan musik untuk pertunjukan teater. Aku masih sering menghabiskan waktu dengannya walau tak sesering dulu karena jadwalku yang lumayan padat.

“Saki”. Sebuah nama yang sangat berharga untukku.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *