Laksana Sebuah Simfoni – Callysta Almaira Cahyani

“Ku aman ada bersamamu, selamanya.”

“Sampai kita tua, sampai jadi debu.”

– Sampai jadi debu, Banda Neira

Dikala sore itu, angin berhembus dengan kuat. Membuat dedaunan para pohon berjatuhan, mereka berdansa dengan mengikuti panduan sang angin. Aku berlutut dihadapannya, mengulurkan tangan kanan ku kepadanya. “Haruskah kita mulai berdansa..?” tanyaku sembari mengeluarkan senyuman yang terlukis di raut wajahku, “Tentu” Jawabnya singkat dan menerima uluran tanganku. Kami berdansa di tepi pantai, membiarkan ombak – ombak kecil yang menabrak kedua kaki kami.

Sang matahari dikala senja itu menyinari wajahnya, tiap helaian rambutnya yang panjang dan berkilauan saling bertabrakan. Aku telah jatuh cinta lagi, betapa indahnya karya ciptaan tuhan yang satu ini. Ia berdansa denganku sembari tertawa dengan leluasa, senyumnya begitu menawan. Duhai kekasihku, tiap rintangan akan ku lewati untuk membuat cinta kita abadi. Akan ku buat wajahmu menjadi sejarah dalam museum, menjadikannya sebuah mahakarya yang sangat mengagumkan bagi seluruh makhluk hidup dalam kehidupan ini.

Kami berbaring di rerumputan hijau taman rumah kami dikala malam itu, memandang ribuan bintang dan sinarnya bulan. Aku memandangi matanya yang berkilauan, melukiskan kembali ribuan bintang dan bulan itu. Ainur Adiratna, kekasihku yang tak kan menjadi tandingan untuk disandingkan dengan batu mineral yang mulia. Rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai, senyumnya yang begitu indah, lalu kulitnya yang berwarnakan cokelat manis, dan matanya yang melukiskan ribuan kosakata indah.

Aku, Mahendra Aditama. Merupakan laki – laki yang beruntung untuk mendapatkan seorang pasangan hidup seperti Ainur, merupakan sebuah keajaiban dunia untuk bertemu dengannya.

Saat itu, kami bekerja diperusahaan yang sama dan divisi yang sama. Beberapa tahun kemudian aku ditunjuk untuk menjadi ketua divisi tersebut, saat itu sebelum rapat pertama ku akan dimulai aku melihat dia, ia sedang berbincang bersama teman – temannya. Aku terpesona, suara berisik yang sedari tadi ku dengar kini telah hilang. Aku terjebak, tak bisa berhenti memandangnya. “Pak?” seseorang tiba – tiba menyadarkan ku dari dunia asmaraloka, “aduhh pak Mahendra, pagi – pagi sudah melamun saja nih haha.” Celetuk nya lagi, Eka Raditya. Sahabatku sedari masa SMA, ia kini menjadi tangan kananku atau mungkin bisa dibilang partner. “Eh hahaha astaga, maaf ya semua. Eumm semuanya sudah masuk..?, bisa kita mulai ya berarti.” Kataku sembari terkekeh mengingat hal konyol yang ku lakukan, aku pun segera memulai rapat.

Kini rapat sudah berakhir dan aku pun merapihkan semua barang bawaanku, semuanya sudah pulang. Kantor terasa sangat sepi, dan tanpa kusadari. Ternyata sedang hujan deras diluar, aku bergegas menuju lobby. Sembari menuruni satu persatu anak tangga, aku meraih payung lipat yang ada ditas ku. Dan sesampainya di lobby, aku melihat Ainur. Ia sendirian, memandangi rerintik hujan yang deras. Aku menghampirinya, “Ainur?” panggilku. Ia menghadap ke belakang, tebakanku benar dia Ainur. “Ehh bapak Mahendra? Sudah mau pulang ya pak?” katanya sembari tersenyum, “hahaha iya nih, kamu sendiri kenapa belum pulang? Sudah jam 17.45 loh.” Tanyaku penasaran setelah melihat jam tanganku, Ainur pun menjawab. “Hahaha hujan deras, saya tidak bawa payung apalagi hp saya sudah lowbattery pak jadi tidak bisa pesan grab atau gojek deh haha jadi kayaknya harus nunggu reda.” Katanya sembari tertawa pelan, “kalau begitu,” – aku membuka payung ku – “Mau bareng sama saya? Kebetulan mobil saya ada di parkiran luar” tawarku.

Aku turun dari mobilku dan menghampirinya, “Ayo silahkan” tawarku sembari membuka pintu mobil kursi penumpang. “Astaga.. terimakasih banyak pak, maaf sekali saya merepotkan.” Katanya dengan nada yang cemas, “hahaha gak apa – apa kok Ainur, oh iya mau sekalian makan malam bareng gak? Saya traktir deh haha.” Candaku sembari tertawa dan menyalakan mesin mobil, “Eh.. tidak usah pak, lagipula saya masih kenyang.” Katanya menolak tawaranku, “hahaha ya sudah kalau begitu.” Tak lama pun kami sampai di rumah Ainur, “ini rumahmu kan?.” Tanyaku sembari memberhentikan mobil, “iya pak, terimakasih banyak ya.. maaf merepotkan.” Pamitnya lalu menutup pintu mobil setelah turun, aku hanya memandangnya masuk kedalam rumah dari dalam mobil. Sungguh lucu sekali pikirku lalu akupun menuju rumah, sesampainya di rumah. Aku beberes dan mandi lalu terbaring dikasur, dan akhirnya tertidur pulas.

Beberapa hari kemudian, aku dan Ainur bertemu lagi. Ia mengajakku untuk ke sebuah café yang baru saja buka bersama sahabatnya, dan tak disangka. Eka.. Raditya.., sahabatku. Ia memiliki hubungan dengan sahabat Ainur! , jadi saat ini. Kami terasa seperti sedang kencan bersama, ternyata sebelumnya Eka sudah diajak oleh sahabat Ainur untuk ikut mencoba café ini. .. suasana kami saat ini sangatlah canggung, “eum pak Mahendra mau pesan apa? Mas Eka juga, nanti saya dan Elois yang pesan.” Tawar Ainur yang akhirnya membuat suasana canggung pecah, selesai mencatat pesanan Ainur dan Elois pergi untuk mengantri dan memesan. “So.. backstreet huh mainnya?” kataku menyinggung Eka sembari menatap sinis kearahnya, “eh.. hehehe santai bro.. chill, saya jelasin dulu ya hehe.” Eka menjawab dengan cemas dan mulai keringat dingin, “baru beberapa minggu kok, tapi! Yang paling penting kenapa kamu bisa sama Ainur?.” – Dan entah kenapa.. tak ada angin tak ada hujan dengan reflek aku menggebrak meja.

Seluruh pengunjung dan pekerja di café itu terdiam, semua mata mereka memandang ke arahku, wah.. sungguh sial sekali diriku. “Ah.. eum.. maaf hehe… saya reflek.. tadi ada nyamuk, silahkan lanjut lagi semua… haha saya minta maaf yaa.” Kataku meminta maaf dan membungkukkan tubuhku, aku tersenyum paksa dan mulai menatap kesal kepada Eka. “Owh.. hehe, suka ya?..” Eka mengejekku, aku sudah merasa malu sungguh malu bukan main karena ejekan Eka. “Eka.. mau diam atau..?” aku mencoba menahan amarah, “Hahaha iya, bercanda doang kokk.” Katanya sembari tersenyum puas, sepertinya dia puas sekali mempermainkanku.

Dan kami berempat pun berbincang panjang lebar, kami tertawa dan bercanda tanpa melihat waktu. Aku mulai merasa nyaman setiap berada disisi Ainur, tiap harinya kulewati bersama Ainur. Aku ragu disaat pertama kali bertemu dengannya namun, seiring berjalannya waktu. Sepertinya jawaban mulai menghampiriku, ia bak simfoni terakhir yang selalu ku cari. Laksana matahari dan bulan yang selalu menyinari hidupku, haruskah ku melamarnya?.

Saat itu kami sedang berlibur bersama, hanya kami berdua di pantai. Ia terus fokus bermain dengan ombak – ombak kecil yang saling bertabrakan, aku menghampirinya. Bukan Ainur namanya kalau tidak tersenyum lebar, ia menoleh menghadapku dan tersenyum dengan sangat lebar. Membiarkan seluruh helaian rambutnya yang selalu tergerai berterbangan dan bertabrakan. Mungkin kalian sudah muak membaca atau mendengar ini namun, aku terpesona kembali dengan Ainur. “Hahaha Mahendra.. – “ aku berlutut tepat dihadapannya membuat Ainur terkejut dengan aksiku, “Ainur.. bertemu dengan mu merupakan sebuah keajaiban bagiku, engkau laksana simfoni terakhir yang selalu ku cari. Aku ingin kau terus mengingatku, begitupun aku yang akan terus mengingat engkau. Dan bila alam semesta memisahkan kita, aku akan mencarimu sampai keujung dunia. Mau Lelah atau apapun itu, akan kuusahakan untuk menemui mu.” – Aku meraih kotak cincin yang sedari tadi berada dikantong celanaku – “Maka dengan tekad ku yang sudah bulat ini, maukah kau menemani hidupku dan mewarnainya setiap hari? Bahkan sampai ajal memisahkan kita aku akan terus memilihmu.” Aku membuka kotak itu, sebuah sepasang cincin terlihat begitu elegan dan menawan.

Ainur meneteskan air mata diwajahnya, ia mengangguk. Menjawab pertanyaan hidupku, ia menangis haru dan tersenyum. “Saya mau.” jawabnya, aku memeluk nya dengan erat. Kami menangis dan tertawa dikala itu, sebuah memorial yang tak pernah terlupakan. Kami melewati hidup kami dengan penuh warna dan kehangatan, sebuah keluarga impian yang selalu ku nanti. Aku menjaga Ainur bagaikan separuh jiwa dan hatinya merupakan milikku, aku selalu menjaganya.

Saat ini, aku memandang ombak lautan ganas yang saling beradu.

Mempertanyakan maksud dari hidupku, dan mengapa ia merebut kekasihku.

‘Ainur.. kekasihku, mau kah engkau memaafkanku? Aku gagal dalam melindungimu. Aku telah mengingkar janji, Ainur maafkan aku.’ Air mata tak sanggup kutahan, aku menangis sejadinya. Aku memukuli diriku sendiri, menyesal tak menghabiskan waktu lebih banyak dengan cinta dan kasihku ini. Mau seberapa banyak aku memanggil namanya, memohon ia untuk kembali. Semuanya tak akan berhasil, semuanya sia – sia.

Tuhan sudah mengambilnya.

– KISAH BERAKHIR –

“Ainur, jangan pernah lupakan aku. Mungkin aku telah mengingkar janji ku dan hanya mengucapkan omong kosong namun, ingatlah.. aku hanya akan terus memilihmu. Ketahuilah bahwa aku telah mencintaimu seperti engkau adalah jiwa dan ragaku sendiri. Jadi tunggulah aku, aku akan terus mencarimu dan memenuhi janjiku”

Mahendra Aditama

“Wahai lelakiku, Duhai kekasihku. Tak perlu menyesal dan janganlah engkau dendam terhadap hatimu sendiri, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Engkau tak pernah mengingkar janji, seluruh omonganmu itu selalu kau pegang teguh. Jika kita dapat bertemu lagi dalam kehidupan lain, aku akan menunggumu. Tak perlu terburu – buru mencariku, karena kedatanganmu akan selalu ku tunggu.”

Ainur Adiratna

Pesan dari penulis:

Seorang seniman kerap kali mengabadikan ‘muse’ mereka atau bisa diartikan ‘inspirasi’ namun, mau berapa kali kau membuat karya untuk menangkap kenangan tentang dirinya. Kau akan kalah dengan sang pencipta, karna ia akan kembali lagi kepada sang pencipta. Maka, cintailah ia bagaikan belahan jiwa dan raga dirimu sendiri. Jangan engkau sia – siakan satupun momen dalam hidup, saling mencintailah dan sayangi hingga kalian rela jika akan terpisahkan oleh Tuhan.

Dan, mau ratusan atau ribuan dan jutaan karya pun. Engkau tak kan sanggup untuk menangkap keindahan milik dia sebenarnya, akan lebih indah jika dilihat dan dipandang secara langsung.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *