Kehilangan Cinta Pertama – Xenaya Latiefa Putri

Siang itu matahari terlalu kejam. Awan yang malu hadir di langit yang begitu terang, membuat sinarnya yang panas menyengat begitu saja menyentuh jalan, membakar setiap bagiannya, membuat anak-anak yang sedang bermain bola berjalan berjingkat, tidak tahan dengan aspal yang terbakar hingga mendidih, sampai-sampai mungkin bisa membuat sebutir telur masak tanpa minyak.

Terdengar suara mobil yang datang, Nera yang sedang mengerjakan PR pun seketika lari dan berteriak. “AYAH, BU. AYAH SUDAH PULANG”, teriak Nera terdengar sampai ke dapur. Nera memang anak yang sangat manja, ia pintar, penyayang dan sedikit nakal tentunya. Di depan pintu, Nera sudah tidak sabar untuk segera bertemu Ayahnya. “Ayah, mana hadiah untuk Nera?”, ucap Nera. “Sabar dong, nak. Kan Ayah baru sampai”, sahut Ibu dengan lembut. “Tenang, udah Ayah bawain. Nanti kita buka ya”, jawab Ayah. “Yess”, teriak Nera.

Keluarga Nera memang cukup berada kala itu, apapun yang Nera inginkan pasti ia dapatkan begitu cepat. Ayah Nera adalah sosok yang sangat gigih, pekerja keras, dan sangat menyayangi Nera seperti tuan putri. Ayah dan Ibu selalu mencemaskan keadaan Nera. Wajar, Nera adalah anak satu-satunya yang mereka punya. Mereka terlalu takut untuk kehilangan buah cinta mereka berdua.

“Bu, nanti Nera mau main ke pantai ya. Mau bikin istana pasir sama Ayah, sama mau naik ATV, boleh ya, Bu?”, rengekan kecil yang setiap bulan selalu Nera katakan. Tentang pantai, pasir, debur ombak, senja sore, semua terasa indah bersama Ayah dan Ibu. Dan, hal ini selalu menjadi kebiasaan keluarga kecil mereka setiap bulan, berlibur. Bahkan, bagi Nera ini terasa lebih dari sekedar berlibur saja, tapi ini adalah kumpulan memori manis tak terlupakan.

Di kala matahari mulai tenggelam oleh kedalaman air laut dan segelas kopi mulai terlihat ampasnya, seketika Ayah bercerita soal kehilangan. “Apa itu kehilangan, Ayah?” Nera bertanya, “kehilangan adalah satu hal yang semua orang akan rasakan Nera, disaat itu kamu akan sadar seberapa penting dan berharganya ia. Entah orang, barang, atau apapun. Kita pasti akan merasakan kehilangan. Nera juga akan merasakan, jangan takut kehilangan ya, nak. Hadapi semua nya dengan senyum, putri ayah kan cantik kalau senyum”, jawab Ayah. Semua terlihat sangat sederhana pada sore itu. Bahkan, Nera masih belum mengerti mengapa Ayah mengatakan ”jangan takut kehilangan ya, nak”, lagi pula apa yang perlu ditakutkan? Ayah selalu menakut-nakuti ku, pikir Nera pada saat itu. Nera masih sibuk dengan istana pasir yang ia buat, menghiraukan perkataan Ayah tadi. Anggap saja itu angin lalu, toh Nera tidak ‘mengerti’. Nera dan Ayah kembali bermain, melupakan soal topik yang tidak ia ‘mengerti’ tadi.

Tidak lama, Ibu datang membawakan karang pantai yang cantik sekali, “lihat, Ibu bawa apa” ujar Ibu. “wahhh, bagusss buat Nera ya bu”, jawab Nera, antusias. Nera selalu mengagumi segala bentuk benda laut, langit, semesta atau ciptaan tuhan lainnya. Ayah dan Ibu Nera pun tahu itu. “Nah, Nera. Karang tuh punya kekuatan loh”, ucap Ayah. “apa Ayah?”, tanya Nera penasaran. “Karang tuh kuat bgt lohh, kayak anak Ayah. Walaupun dia diinjek, malah orang yang injek yang kesakitan. Kayak Nera pas kelas 1, ada orang yang nakal sama nera, malah Nera bales dan bikin dia nangis kan? Hebat anak Ayah”, jawab Ayah sambil tertawa. Nera dan Ibu ikut tertawa. “iya dong, makanya jangan berani sama Nera”, goda Nera. “Terus bertumbuh menjadi anak yang cantik dan kuat ya, sayang”, ucap Ayah pelan sambil mencium dahi Nera. Tidak terasa waktu mulai malam, matahari mulai tidak terlihat. Saat itu juga, Nera terpaksa berpisah dengan pasir, ombak, dan segala tentang pantai. Dan yang perlu kalian tahu, itu adalah liburan paling menyenangkan bersama Ayah.

Tapi, pernah tidak kau bayangkan Kehilangan Cinta Pertama mu?

Cinta yang membawa mu di titik kehidupan terindah, kebahagiaan, sehingga lupa bersedih? Pernah kau bayangkan secepat apa kau kehilangan itu? Kehilangan itu seperti semua yang kamu miliki perlahan juga ikut hilang, pudar, tidak lagi berwarna. Hidup mu, kosong. Sekarang, aku ‘mengerti’.

Tepat 10 tahun lalu, siang itu sangat mencekam bagi Nera dan Ibu. “Maaf, Bu. Tapi kondisi Bapak, semakin memburuk. Tidak ada pilihan lain selain mencabut semua alat bantu Bapak”, suara itu terdengar seperti petir yang menyambar seluruh isi ruangan. Di balik kaca ruang ICU, Nera melihat Ayah terbaring tak berdaya. “Ayah, Nera coba ikhlasin Ayah. Tapi, Nera juga gak tau bisa apa gak Ayah”, Nera berkata lirih di dalam hati. Sulit sekali untuk bibir Nera mengucapkan ‘selamat tinggal’ tapi kata Ibu, ”ikhlasin Ayah ya sayang.

”Ayah, Ayah hanya bilang untuk aku jangan takut kehilangan, tapi Ayah ga pernah ngajarin aku buat bener-bener siap kehilangan! Ayah janji nemenin aku? Kita bikin istana pasir lagi, Ayah”, tangis Nera pecah. Kejadian itu begitu cepat. Batu bertuliskan nama Ayahnya, tanah ditaburi bunga diatasnya. Terlihat sederhana, namun menyakitkan. Perlahan satu persatu dari mereka berpamitan, tapi Nera masih belum juga mampu beranjak dari sana, air matanya terus mengalir tiada henti melepas kepergian Ayah. Ayah, cinta pertama Nera. Semua memori Nera bersama Ayah semakin terbayang. Sakit. Itu yang Ia rasakan.

“Nera, pulang ya nak. Ayah udah tenang disana”, Ibu berbisik lembut di telinganya. “Ga Bunda, Nera ga mau tinggalin Ayah sendirian. Nera mau sama Ayah, Ayah juga pasti butuh Nera kan”, tangis Nera semakin pecah. Tapi, Ibu selalu punya cara untuk membuat Nera luluh. Sayang, kali ini tidak berhasil. Sejujurnya, Ia pulang hanya karena takut Ibu semakin sedih. Ibu cukup kuat untuk menenangkan Nera pada saat itu. “Nera pulang sama Ibu, nanti besok kita kesini lagi, temenin Ayah lagi, nurut sama Ibu ya sayang”, ucap Ibu lembut berbisik di telinganya. Nera masih terisak melihat makam Ayah yang masih basah itu semakin hilang dari penglihatannya, semakin kecil, lalu.. Menghilang.

Di perjalanan pulang, Nera hanya melamun, berharap semua ini hanya mimpi yang sebenernya Nera bisa saja bangun. Tapi, ini terlalu nyata untuk Ia anggap sebagai mimpi. Kota terasa sepi, langit gelap, seolah semesta juga berdukacita atas kematian makhluk bumi yang sangat berarti untuknya. Waktu terasa berhenti berputar, ’Bagaimana hidup ku tanpa ayah?’ pertanyaan yang tampak sederhana namun sulit untuk Nera temukan jawabannya. Bahkan, sampai saat ini.

Waktu terus berjalan, dulu Nera pikir semuanya berhenti semenjak kepergian Ayah, ternyata tidak. Waktu terus berputar, bahkan lebih cepat. Nera tumbuh tanpa kehadiran Ayah di sisinya. Sejujurnya, tumbuh tanpa sosok kasih dan sayang dari seorang Ayah adalah hal paling menakutkan yang pernah Ia alami sampai saat ini.

Usianya genap 18 tahun, sekarang. Usia yang sudah cukup dewasa, dengan segala tanggung jawab yang dipikul sendiri (tanpa Ayah). Benar, semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat panjang, sampai tiba pada hari ini. Nera berdiri, di depan tempat peristirahatan terakhir Ayah, Ia menatap dalam-dalam, berandai-andai jika Ayah kembali lagi walaupun kejadiannya sudah 10 tahun lalu, tapi itu hanya laju pikirannya saja.

Air mata Nera sudah tidak lagi menetes, rindu yang tersemat untuk Ayah, kini sudah menjadi puluhan, bahkan ribuan do’a untuknya. Nera bukan melupakan Cinta Pertamanya, tapi Ia sudah… ikhlas.

”Bagian terbaik dari kehilangan adalah mengikhlaskan.” Ucap Ibu 10 tahun lalu, tepat di hari ulang tahun Ayah, dan tiga bulan setelah kepergian Ayah. Nera dan Ibu masih sering merayakan hari ulang tahun Ayah, tapi tidak ke Pantai lagi, melainkan ke Makam Ayah. Nera mulai mengikhlaskan segala tentang Ayah, Ia yakin tuhan lebih menyayangi Ayahnya. Ia Ayah yang hebat, kuat, pemberani, pahlawan bagi Nera. Meski ikhlas Nera kadang terlihat seperti palsu, tapi Ia yakin ini akan segera berlalu. Lagipula, Ayah akan terus abadi dalam setiap do’a-nya. Titik tertinggi dalam mencintai adalah merelakan, ikhlas dan mendoakan, bukan? Nera selalu percaya itu.

Sore ini, senja di Pantai masih terasa sangat indah. Persis seperti 10 tahun lalu, di saat liburan terakhir Nera bersama Ayah dan Ibu. Sudah lama Ia tidak merasakan pasir, mendengar debur ombak yang dijawab oleh kicauan burung. Nera berjalan seorang diri menyusuri tepiannya, membayangkan kehadiran Ayah di sini, ikut merayakan ulang tahunnya yang ke-18. Dengan penuh suka duka kehidupan, Ia telah melewati banyak rintangan seorang diri, tanpa sosok Ayah. Seketika Ia berhenti sejenak, merasakan angin yang berhembus cukup kencang, ombak yang terus membasahi kakinya. ”Aku juga ingin seperti karang yah, selalu kuat”, kata Nera. “Nera, putri kecil Ayah yang selalu kuat”. Semua terasa indah, ditemani oleh bayangan… Ayah.

Menurutku, kehilangan cinta pertama memang bukan hal yang sederhana, atau bahkan sepele. Ini adalah satu hal yang sangat rumit, terlebih jika kau kehilangan nya dan ia tak akan pernah bisa kembali bersama mu, sakit bukan? Iya, aku mengerti. Tapi, coba bayangkan jika kau mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidup mu, dan memahami makna dari ‘kehilangan’ itu sendiri. Tidak, aku tahu tidak akan semulus itu jalannya. Tapi, dalam cerita itu perlu yang namanya senang, sedih, bahagia, jatuh, bangun, jatuh, bangkit lagi. Jika bahagia terus kapan kamu akan merasakan sedih? Lalu orang yg bersedih, kapan akan merasakan senang? Semuanya berhak merasakan perasaan-perasaan itu. Kau boleh saja mengekspresikan itu, tapi jangan berlebihan. Nikmati segala proses yang kamu hadapi, dan ikhlaskan semuanya.

Kehilangan cinta pertama, bukan berarti engkau tidak akan merasakan cinta lagi. Tapi justru, ini adalah yang perlu kau lalui untuk menemukan cinta sejati. Cinta pertama, bukan akhir dari kisah cinta mu. Tapi awal dari kebahagiaan mu. Percayalah, banyak hal indah yang menanti senyum manismu di depan sana.

Salam kerinduan, dari cinta pertamamu.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *