…’Satajidunî in syâ’allâhu shâbiraw wa lâ a’shî laka amrâ’ “ Dia (Musa) berkata, “Insyaallah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun” (Al Kahfi : 18 : 69) Alunan kitab suci Al-Qur’an mengalir merdu dari mulut Fathia, Fathia Azzahra. Seorang anak perempuan remaja berusia sepantaran anak SMA. Ia tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dari mulutnya selepas tahajud. Suasana di kamar seluas 2×2 meter itu begitu damai. Fathia tinggal bertiga bersama dengan Umi dan Aisyah, adik perempuannya. Abi telah pergi ke pangkuan-Nya semenjak Fathia TK, meninggalkan Perempuan yang dicintainya dan dua orang anak manis yang ia sayangi ke sisi Rabb-Nya. Fathia dengan khusyuk masih membaca ayat demi ayat. Angin sepoi berembus dari luar menciptakan udara sejuk yang masuk ke kamar. Samar-samar terdengar derap langkah kaki menuju kamar, dan seseorang dengan mukena masuk ke kamar Fathia, dia adalah Aisyah.
“Kak, ayo kak. Sholat jemaah, udah adzan.”Fathia mengangguk pelan dan kemudian mengikuti langkah adiknya menuju ruang tamu untuk shalat berjamaah bersama Umi dan Aisyah. Seperti biasa, Umi yang menjadi imam shubuh. Fathia mengangkat kedua tangannya mengucapkan takbiratul ihram. Wajah itu bahkan begitu khusyuk hingga seekor lalat pun takkan menghinggapinya. Di rakaat kedua, Fathia membaca doa qunut setelah i’tidal. ‘Allahhummahdinii fiiman hadait, wa’a finii fiman ‘aafait, wa tawallanii fiiman tawal-laiit, wa baarik lii fiimaa a’thait, wa qinii syarra maa qadhait…’Fathia pun bersujud, wajahnya menyentuh sajadah, ia kemuadian duduk diantara dua sujud. Kemudian kembali menyentuh sajadah dengan wajahnya yang halus. Di sujudnya di rakaat terakhir itu, Fathia mengucap doa dengan lirih…
“Yaa Allah…kumpulkanlah kami di surga-mu bersama dengan orang-orang beriman yang engkau ridhoi ya Allah…jauhkanlah Abi dari siksa kubur ya Allah..”Fathia mengangkat wajahnya. Tahiyat akhir. Kemudian syahadat dan salam. Suasana rumah itu begitu damai shubuh itu.
Pagi yang cerah seperti biasanya, Umi pergi menjual pecel. Fathia turut membantu dengan membawa jualanan ke sekolah. Teman teman Fathia amat menyukai pecel dagangan Fathia, jadi tak heran setaip jam istirahat meja Fathia selalu ramai dengan kerumunan siswa siswi. “Fath, apa kamu gak capek sih? Jualan pecel mulu? Tiap hari lagi..” Amel, teman Fathia bertanya sambil memandangi keranjang anyam tempat dagangan pecel Fathia. Menanggapi hal itu, Fathia hanya tersenyum dan menggeleng, kemudian berkata kepada Amel
“Gak. Aku gak capek kok, aku seneng bisa bantu Umi.”Amel kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Fathia.
Hari demi hari Fathia berjalan lancar. Hingga memasuki bulan September. Sekolah Fathia mengadakan upacara bendera Senin pagi seperti biasanya. Fathia berada di barisan putri. Sinar matahari yang sangat terang menyinari wajah para siswa di lapangan, tak terkecuali Fathia. Keringat mengucur deras dari dahinya. Kedua mata Fathia memicing. Rasa pusing menyergap kepalanya, Fathia kemudian berkata Amel dengan lirih “Mel…aku mau muntah.”Amel kemudian sedikit mengalihkan pandangannya ke Fathia. Wajah Fathia benar benar pucat, beserta dengan keringat yang terus mengalir. Amel begitu khawatir kemudian meminta Fathia untuk mundur ke barisan belakang. “Udah sana mundur aja, Fath.”saat Amel berkata begitu, seketika pandangan Fathia menjadi gelap. Tubuhnya jatuh ke tanah. Ia pingsan.
Fathia membuka matanya perlahan, pemandangan indah terhampar jelas di sekelilingnya. Bunga bunga indah berterbangan. Tubuh Fathia dibalut dengan gamis putih bersih yang menawan. Fathia duduk, tampak di hadapannya seorang laki-laki paruh baya berdiri di hadapannya. Fathia mengenal betul laki laki itu.
“A..bi…?”bibir Fathia mengucap panggilan itu, kemudian berlari memeluk Abi. Kedua tangan Abi terentang menyambut pelukan itu. Kedua anak dan ayah itu berpelukan begitu hangat. Bahkan tak ada satu makhluk pun yang akan mengusik mereka berdua. “Fathia..fathia rindu Abi..”Fathia berbisik begitu pelan di telinga Abi. Abi kemudian menatap wajah putrinya yang begitu bening. Abi tersenyum hangat, Fathia pun begitu. Ia tersenyum semringah menatap wajah yang dirindukannya. “Fathia mau disini bi..Fathia mau disini sama Abi..”mendengar itu, Abi membelai lembut kepala Fathia. “Nggak bisa nak..Thia gak boleh disini…Thia harus pulang bantuin Umi, ya?.”Abi mengangguk meyakinkan Fathia, kemudian menenteng tangan Fathia ke sebuah bukit, diatas bukit itu, terdapat sebuah pintu berwarna putih. Abi membuka pintu itu, seberkas cahaya terang keluar bersaman dengan pintu yang perlahan terbuka. Abi memegang kedua bahu Fathia, kemudian menempatkan Fathia di depan pintu tersebut. “Thia harus pulang ya nak..”Abi tersenyum kemudian mendorong perlahan Fathia ke dalam pintu tersebut.”Abiii..”Fathia memanggil manggil abinya, namun pintu sudah tertutup dan wajah Abi menghilang dibalik pintu tersebut.
Fathia kembali membuka matanya perlahan, ia celingukan. UKS, Fathia saat ini berada di UKS. Dinding putih bersih dan pendingin ruangan yang menempel di dinding. Udara di ruangan itu terasa dingin bagi Fathia. Amel duduk di samping ranjang Fathia. Melihat Fathia siuman, Amel langsung menanyakan keadaannya “Fath, gimana? Udah ngerasa mendingan? Sini duduk.”Amel memapah badan Fathia, mendudukkannya di kasur. Kemudian beranjak mengambil air putih untuknya. Amel menyodorkan air putih ke Fathia, Fathia meminumnya sedikit. Kemudian ia hendak turun dari kasur. Saat itu juga cairan berwarna merah pekat menetes dari lubang hidung Fathia. Amel yang menyaksikan hal iyu berseru dengan panik “Fath! Kamu mimian Fath..”Amel pun mengambil tisu yang ada diatas meja UKS dan mengelap hidung Fathia. Raut khawatir tergambar jelas di wajahnya.
Sore itu hujan turun dengan derasnya, membasahi semua yang berada di bawah rintikannya. Fathia terbaring lemah diatas kasurnya dan sesekali terbatuk. Sejak kejadian tadi pagi, kondisi kesehatan Fathia menjadi parah, Fathia begitu pucat dan ia menggigil dibalik selimutnya. Dia teringat apa yang dialaminya saat pingsan tadi. Matanya hanya memandangi jendela yang tirainya berkibar kibar tertiup angin.
Keesokan harinya, Fathia tidak masuk sekolah, begitupun dengan hari hari berikutnya. Kondisi kesehatan Fathia kian memburuk. Teman teman Fathia bergantian menjenguknya tiap hari, tak terkecuali wali kelasnya, Bu Walida. Hingga bulan September minggu terakhir. Fathia masuk sekolah di hari Rabu, hari itu Fathia merasa lumayan baikan, jadi ia memutuskan untuk pergi berangkat sekolah. Fathia berniat berangkat seperti biasa sambil membawa pecel dagangan, tapi Umi melarangnya “Gak usah bantu Umi dulu kak…kakak baru sembuh..”Umi berkata dengan lembut kepada Fathia, dan memberikan keranjang dagangan pecel kepada Aisyah.
“Iya kak, biar Ai aja yang jualin, nanti kakak capek”Aisyah tersenyum riang, yang dibalas anggukan juga dari Fathia.
Sesampainya di koridor sekolah, Fathia langsung diserbu oleh teman-temannya yang ingin membeli pecel, Fathia menggeleng pelan sambil tersenyum mengatakan kepada teman temannya bahwa ia hari ini tidak berjualan karena baru sembuh. Fathia lanjut melangkahkan kakinya ke kelasnya. Di kelas, Amel menyambut gembira kedatangan Fathia.
Jam pelajaran ketiga jam olahraga. Fathia dan teman temannya berkumpul di lapangan untuk praktek bola voli. Saat hendak melayangkan bola, kepala Fathia kembali terasa pusing. Matanya berkunang kunang dan keringat mengalir deras dari dahinya. ‘Aku masih sanggup…tinggal sebentar lagi bel istirahat…’Fathia bersikeras mempertahankan permainan berlangsung. Kemudian, darah keluar lagi dari hidung Fathia. Fathia hanya merasa bahwa hidungnya seperti ingusan, jadi ia hanya mengelapnya dengan kerudungnya. Begitu Fathia melihat kerudungnya terkena bercak darah, ia langsung pergi meninggalkan lapangan dan izin ke toilet.
Tetapi belum sempat Fathia beranjak, matanya menjadi gelap lagi, kali ini tubuhnya kembali ambruk di lapangan.
Melihat kondisi Fathia yang kian memburuk, Umi memutuskan untuk mengecek Fathia ke Rumah Sakit. Dan ketika dokter menyatakan penyakit Fathia, dunia Umi serasa hancur. Sakit yang diderita putrinya begitu berat, bahkan sangat tidak diduga bahwa Fathia akan menderita penyakit yang begitu berat. “Anak ibu terkena leukemia bu…”demikian titah dokter yang mengecek Fathia di ruangannya. Terngiang jelas kata katanya di telinga Umi. Bahkan yang malangnya, jenis leukemia yang diderita Fathia adalah leukemia akut yang sudah memasuki stadium ketiga, yang berarti peluang sembuh bagi Fathia sangat sedikit.
Fathia terbaring lemah diatas kasur. Kini tubuhnya benar benar lemah. Semenjak didiagnosa terkena leukemia, Fathia semakin ingin bertarung melawan penyakitnya. Ia juga tidak lupa mengerjakan sholat 5 waktu. Dan Fathia memutuskan untuk belajar secara daring. Makin hari kondisi Fathia makin menjadi. Kanker semakin liar menggerogoti tubuhnya.
Ba’da isya yang tenang, Aisyah mendatangi kamar Fathia. Aisyah memberikan sebatang cokelat. Kemudian dia memeluk kakaknya. Aisyah berbisik lirih di telinga Fathia “Kak..Ai, Ai sayang kakak karena Allah..”Fathia tertegun. Kemudian air mata menetes dari pelupuk matanya. Fathia mengusap kepala Aisyah dengan lembut. Ia benar benar tidak menyangka bahwa adiknya yang polos itu akan mengatakan hal mengharukan seperti itu. Fathia benar benar tersentuh. “Kakak juga sayang Ai karena Allah, dek..”malam itu Fathia dan Aisyah berpelukan dengan syahdu, dua insan dengan pertalian darah yang telah tertulis di catatan takdir.
‘Subhaana rabbiyal a’laa wabihamdih…’Fathia tenggelam dalam sujudnya di sepertiga malam. Dalam sujudnya, Fathia kembali berdoa. ‘Ya…Allah, pertemukanlah kami sekeluarga di surga-Mu kelak ya Allah…angkatlah penyakit hamba ya Allah, engkaulah sebaik-baiknya penyembuh ya Allah…perkenankanlah hamba kembali berjualan di sekolah…hamba ingin membantu Umi ya Allah, ya Allah…jika ini menjadi sujud terakhir hamba, maka biarkan hamba meminta kepadamu ya Allah…hamba ingin berakhir dalam keadaan islam ya Allah…menghadapmu dengan kalimat laa ilaha ilallah…ampunilah dosa dosa hamba ya Allah, dan dosa keluarga hamba ya Allah…’ Air mata menitik dari pelupuk mata Fathia. Ia hanya ingin sembuh, dan kembali membantu Umi seperti biasa.
Oktober 2023. Fathia sudah merasa lumayan setelah dirinya lama berbaring di kamar. Sore ini, ia sedang menyapu halaman sembari menikmati angin sore. Umi tengah menjahit di teras, dan Aisyah bermain main di halaman. Tanpa sadar, tiba tiba saja gagang sapu lidi terlepas dari tangan Fathia. Darah segar menetes dari hidungnya. Ia limbung, Fathia terjerembap ke tanah, saat itu juga Umi dan Aisyah menghampiri Fathia dengan ekspresi panik. Umi segera menggeser tubuh Fathia ke teras, dan Aisyah mengambil tisu dan air putih ke dalam rumah.
Fathia memejamkan matanya erat erat, dalam hati, ia mengucap istighfar. Aisyah kemudian menyeka darah yang menetes dari lubang hidung kakaknya. Pandangan Fathia berpendar pendar. Kemudian setelahnya, Fathia pingsan. Umi kembali membawa Fathia ke rumah sakit sorenya setelah Fathia pingsan. Hari ini jadwal Fathia untuk kemoterapi. Ketika sampai di ruang kemo, Fathia melepas hijabnya. Tampak kepalanya yang nyaris tipis, separuh rambutnya rontok, hanya menyisakan sedikit di kepalanya. Betapa kasihan melihatnya, diantara remaja perempuan lain seusianya memodel rambutnya, justru Fathia malah kehilangan mahkotanya.
Begitu selesai kemo, Umi dan Fathia menuju ruangan dokter untuk mengecek kondisi leukemia Fathia. Dokter melihat layar monitor sejenak dan menghela nafas berat. Bukan kabar baik. “Kankernya sudah mencapai stadium terakhir, bu…”demikian ucap sang dokter. Kemudian dia menawarkan apakah Fathia dan keluarganya bersedia Fathia dibawa ke rumah sakit. Saat ini kondisi Fathia juga tidak memungkinkan lagi untuk bersekolah. Dia sudah sangat kritis saat ini.
Oktober 2023 minggu ke-3. Umi memasuki ruangan rawat inap Fathia.
Terdengar suara monitor detak jantung. Belalai belalai medis menempel di sekujur tubuhnya. Benar benar menyakitkan melihatnya. Umi membawakan air hangat untuk Fathia. Aisyah saat ini masih di sekolah, sehingga hanya Umi dan Fathia yang ad di rumah sakit. Fathia menggapai tangan Umi dengan lembut.
Fathia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Umi dengan lirih. “Umi…kakak sayang banget sama Umi..kakak sayang Umi karena Allah..”Fathia terbatuk. Darah menetes dari mulutnya. Fathia menyekanya dengan tangannya yang tertancap jarum infus. Umi menangis mendengar kata kata mengharukan seperti hal yang dikatakan Aisyah. Fathia melanjutkan, “Umi tau Al kahfi ayat 69? Janji nabi musa kepada khidir? Begitulah janji Fathia sama Umi…”
Shubuh, tepat jam 03.00, Fathia menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit RSUD Tiara Medika, tepat saat sedang melaksanakan sholat tahajud, dan itu merupakan sujud terakhir Fathia.

Leave a Reply