Send This To my First Love – Farida Rahmatunnisa

Gheziera POV

Langkah kaki terdengar dimana-mana disertai banyaknya suara pembicaraan, langit begitu cerah, saat itu jalan juga begitu ramai layaknya pemandangan di kota-kota besar. Hari ini adalah hari dimana aku akan memasuki sekolah ku kembali dan bersiap untuk menjadi kakak tingkat, hari ini aku akan menduduki bangku kelas 3 SMA. Namaku Gheziera Chlaudia Azzara, aku berumur 17 tahun, aku tak seperti anak pada umumnya, dibanding keramaian aku lebih suka menyendiri, dibanding banyak bicara aku lebih suka diam atau bicara sendiri. Aku membenci orang-orang disekitarku, mereka tak pernah jujur, mereka lebih suka bersandiwara di depanku, dan aku sangat membenci pertemanan.

Aku hanya memiliki satu teman, lebih tepatnya sahabat. Kami sudah berteman dari kelas 2 SMP lebih tepatnya sudah 4 tahun, kalau sudah berada di dekat dia, sikap aku berubah. Aku bawel katanya, gak bisa diam, baik, cerewet. Macam-macam sih, walau dia cowok, dia adalah teman yang selalu ngertiin aku sebagai cewek, dan aku suka dia, sebagai teman. Aku gak mau kehilangannya. Cuma dia satu-satunya teman yang aku punya, yang buat aku nggak merasa kesepian, dan aku benar-benar gak mau kembali ke dalam kesunyian yang dulu aku rasa.

Seperti ini lah kehidupanku dan mungkin akan terus seperti ini, hidup dalam kesengsaraan dan mungkin aku tak akan menemukan kebahagiaanku sendiri.

Bel berbunyi, tanda semua murid SMA Negri 11 Jakarta Pusat harus berkumpul di lapangan, aku beranjak dari kursi yang kududuki sejak tadi di pinggiran taman, dan segera menuju lapangan. Saat itu murid baru dipisahkan dari lapangan, hanya ada murid kelas 11 dan 12 yang berbaris. Aku lebih memilih barisan yang sedikit kebelakang entah apa tujuannya, hanya saja aku tidak terlalu menyukai barisan yang terlalu depan.

Matahari begitu terik, cuacanya cerah bercampur kesegaran alam, itu sangat menarik perhatianku, setidaknya ini membantuku agar sedikit bersemangat.

Tak lama kemudian barisan dibubarkan, ketua OSIS menyuruh seluruh siswa untuk memasuki kelas mereka masing-masing, aku memegang erat tasku kemudian berjalan santai menuju kelas sambil menjinjitkan kaki melihat ke sekeliling sekolahan yang padat dipenuhi siswa dan siswi baru maupun lama, aku memang sedang mencari seseorang, siapa lagi yang aku cari kalau bukan si anak curut, Rangga Arsaka Reevan.

“Ih Rangga kemana sih? Berangkat bareng giliran udah kumpul ama temen-temen kelasnya aja lupa gue dah” Aku mendengus kesal, bagaimana tidak coba, dari kita sampai ke sekolah dia udah ngilang bahkan batang hidungnya pun nggak terlihat.

“Woy!!” Aku terkaget kala seseorang menepuk pundakku dengan kasar dari belakang.

“Nyari siapa sih neng? Nyari cowok tampan yang namanya Rangga yaa?”

Suara itu sangat khas ditelingaku dan refleks langsungku tolehkan kepalaku, alhasil mata kami saling bertatapan, wajah kami sangat berdekatan dengan badannya yang sedikit membungkuk menyetarakan sesuai dengan tinggiku, dan wajahnya yang muncul di belakang punggungku dengan jarak yang sangat dekat secara tiba-tiba.

Deg! Deg!

Apa ini? Kenapa jantungku berdetak kencang gini, rasa aneh apa ini, apa mungkin perasaan aku saja dari jarak sedekat ini Rangga menjadi sangat menarik? Aku bergumam sendiri, aku yang menyadari bahwa aku melamun pun tersadar dan langsung mendorongkan badan menjauh dari badan Rangga.

“Eh! Lo tuh ya! Ih ngeselin banget sih, gak tau apa gue sendirian dari tadi, lo tuh kemana aja sih?” Pipiku terasa panas seperti ingin marah tapi terlalu bahagia untuk mengalihkan pipiku, aku mencubit-cubit badan Rangga yang dari pagi meninggalkan aku sendiri yang tidak tau mau apa dan mau kemana.

“aw! Sakit tau!” Ringisnya.

“Iya deh maaf, tadi kan cuman main bentar” Dia mengacungkan jari telunjuk sambil menunjukkan kearah yang tak jelas kemana.

“Bentar lo bilang!? Gue hampir nangis tau nggak sendiri disini!” Sambil melanjutkan cubitan ku.

“Aw udah dong… Sakit nih. Maaf deh maaf nanti gue beliin permen kesukaan lo deh”

“Kali ini gue maafin ya, tapi awas kalo diulang, dan janji ya bakal beliin gue permen”

“Iya iya janji, yaudah masuk kelas yuk”

Tanpa basa basi, ia langsung menarik tangan ku untuk segera meninggalkan tempat kami bebincang tadi.

Author POV

Terlihat sepasang anak remaja tengah duduk sambil menunggu pesanan es krimnya datang disebuah kedai es krim mini. “Lo tunggu bentar ya, gue ada yang pengen dibeli.” Ujar Rangga yang dibalas tatapan tajam oleh Gheziera

Rangga tahu, Gheziera ingin ditemani, ia membungkuk kan badannya sambil tersenyum manis kepada gadis yang tadi memintanya untuk tetap disana. “Sebentar doang, Zi, beli permen buat lo doang” Gheziera sangat menginginkan ditemani tapi ia lebih ingin lagi permen yang dijanjikan Rangga sejak sekolah tadi.

“Yaudah demi permen, jangan lama ya Ga”

“Iya gak lama kok tunggu bentar ya” Rangga mengacak kepala Gheziera yang membuat rambut coklat Gheziera sedikit terlihat kusut.

“Yaudah gue pergi dulu ya Zi” Rangga melambaikan tangan dan segera meninggalkan toko eskrim yang ia tempati tadi.

Rangga POV

Aku berjalan menuju minimarket yang tak jauh dari kedai eskrim tadi, ya untuk apa lagi aku kesini kalau bukan nepati janji aku beliin permen kesukaannya Gheziera. Iya, dia sangat suka permen terlebih yang rasanya caramel, bukan karna suka juga tapi karena dia benci rasa buah, kalau di fikir mungkin dia itu kekanakan sekali tapi itu yang membuatnya lucu bahkan imut sekali.

“Kak Ranggaa!”

Aku tersentak terbangun dari lamunanku dan mencoba mencari sumber suara yang memanggil namaku.

“Oy kak! Gue disini!” Seorang gadis dengan rambut sebahu melambaikan tangan ia berlari datang menghampiriku.

“Siapa?” Aku bertanya-tanya siapa dia dan wajahnya tak begitu asing apa aku mengenalnya?

“Yah kak masa lupa, ini gue Kayesha kak” Ia menunjuk kearah dirinya sendiri dan meyakinkanku bahwa aku mengenalnya.

“Eh lo Kayesha serius? Kok beda banget ya” Sambil memutar badan gadis yang kini berada didepan Rangga.

“Iya kak ini gue, hehe sebenarnya gue memang sedikit ngerubah penampilan gue gimana bagus?”

“Eh, bagus kok” Senyumanku terukir disana, bagaimana tidak, dia mantan pacarku dan bertemu denganku dalam keadaan berbeda itu sangat membuatku sedikit terkagum.

“Mau kemana kak?” Tanyanya.

“Oh, ke minimarket beliin Ziera permen”

“Oh ada kak Ziera juga? Dimana dia kak gak keliatan,” Matanya kembali melirik sekitar yang menandakan bahwa ia mencari seseorang.

“Dia gak ikut, dia ada dikedai eskrim sana tuh gak jauh. Kenapa, mau ketemu?” Sambil menunjuk ke arah kedai mini

“Iya kak, udah lama gak ketemu” Senyuman tipis terukir diwajahnya, dia memang manis dan baik, dia juga sedikit akrab dengan Ziera, tetapi terakhir kali yang aku tahu hubungan dia dengan Gheziera tak begitu bagus, jadi sepertinya aku kurang yakin akan membawanya bertemu Gheziera.

“Lo yakin Kay?” Aku bertanya untuk meyakin kan perempuan di depanku yang sepertinya ingin sekali menemui Gheziera.

“Iya dong kak, udah kangen kalian” Senyumnya kian melebar, sepertinya ia sangat ingin bertemu Gheziera.

“Yaudah, tunggu bentar gue beli permennya dulu ya”

Aku beranjak pergi meninggalkan perempuan yang tadi berbicara denganku. Yaa setelah 1 tahun gak ketemu, mungkin dia ingin memperbaiki kesalahannya yang dulu. Tanganku membuka sebuah kardus dan mengambil permen caramel yang berada didalamnya kemudian berjalan menuju kasir untuk membayarnya, tak perlu waktu lama kini aku sudah berada diluar sambil memegang uang kembalian.

“Udah kak?” Perempuan tadi berlari kecil menghampiriku.

“Udah Kay, yaudah ayok katanya mau ketemu Gheziera?”

“Iya dong, ayo kak cepet ya” Tangan kecilnya mendapati tanganku dan menarik lembut agar aku berjalan lebih cepat

“Eh, iya iya sabar Kay”

Sepanjang jalan kami dipenuhi tawa kecil, seperti biasa dia selalu saja banyak bicara, selalu saja punya bahan bercandaan yang membuatku terkekeh geli.

Gheziera POV

Kaki kecilku terayun-ayun, rambutku terkibas oleh angin, aku terhanyut dalam suasana yang sangat damai, aku mendongakkan kepalaku, mataku mendapati pemandangan langit yang indah ditutupi oleh atap kedai yang transparan dengan berhias corak bunga, aku menutup mataku suara dari kendaraan terlihat bising. Memang kami memilih tempat duduk yang diluar kedai agar bisa menikmati pemandangan jalan raya.

Hampir aku terlelap dalam tidur terdengar suara yang mengusik telingaku segera aku membuka mata dan mencari sosok yang sangat kukenal itu.

“Zi! Gheziera!”

Laki-laki itu berulang kali melambaikan tangannya, aku tersenyum lebar dan membalas lambaian tangannya. Hanya saja hatiku bergemuruh hebat melihat sosok wanita yang berjalan bersamanya. Siapa dia? Kenapa dia bersama Rangga?

“Kok lama Rang? Jamuran gue disini hampir aja gue ketiduran!” Kakiku tersentak berdiri dengan hati yang tak enak.

“Jangan marah dulu Zi” Tangannya kembali mengacak rambutku, entah apa yang membuatnya sangat hobi mengacak rambutku.

“Tadi gak sengaja ketemu Kayesha dijalan katanya dia mau ketemu lo jadi sekalian gue bawa” Dia kembali melanjutkan bicaranya sambil tersenyum dengan tangan yang menggaruk-garuk kepala.

Aku yang menyadari raut wajah cewek yang sedang berdiri disamping Rangga hanya terdiam dan mencoba mengalihkan tatapan kejam perempuan itu.

“Oh, jadi ini Kayesha ya? Kok gak mirip lo dek hehe” Aku berusaha tersenyum walau sebenarnya aku khawatir dan marah, akan tetapi amarah itu aku redam saja dan memangnya kenapa aku marah? Dia kan mantan pacar Rangga wajar aja dia mau ketemu Rangga.

“Hehe iya kak, beneran gak mirip ya kak? Padahal Cuma ubah penampilan gue sedikit” Ujarnya, aku rasa dia memang ingin bertemu denganku, pasalnya dia tersenyum lebar saat menjawab pertanyaanku, tapi dengan urusan apa dia ketemu aku?

Kayesha Putri Keirana, dia adalah adik kelas kami saat SMP dia satu tahun dibawah kami, jadi saat ini dia juga masih dibawah kami, tapi bedanya kita nggak satu sekolah lagi.

“Ayo duduk dek udah lama kita gak ketemu ya hehe” Ujarku dengan menyuduhkan sebuah kursi yang menjabat tangannya dengan lembut.

Sesampainya di tempat duduk, aku dan Rangga bercanda dengan penuh tawa setelah rangga memberiku permen yang baru saja ia beli. Sementara Kayesha, dia hanya menyimak dan melihat kami bercanda dengan raut wajah yang sedikit terlihat cemburu.

“Ah iya kak kalian itu pac….” belum sempat Kayesha melanjutkan kalimatnya, sudah dipotong oleh pelayan yang datang sambil membawa pesanan.

“Permisi, ini pesanannya” Ucap pelayan itu dengan meletakkan dua mangkok eskrim yang seperti gundukan gunung membuat siapapun pasti ketagihan

“Eh iya Kay lupa, lo belum mesan yak?” Suapan eskrim Rangga digagalkan karena mengingat Kayesha yang didepannya belum ada makanan apa pun.

“Eh iya kak barusan gue mau pesan” Baru saja Kayesha ingin berdiri tapi sudah dicegat oleh Gheziera.

“Udah lo duduk aja, biar gue yang pesan” Gheziera tersenyum dengan badannya yang sudah berdiri tegak.

“Eh gapapa kak?” Ucap Kayesha dengan perasaan tidak enak.

“Gapapa Kay, duduk aja” Gheziera bergegas pergi ke meja kasir untuk memesan.

Rangga POV

Sepi setelah Gheziera beranjak meninggalkan kita tak ada obrolan sepatah pun, aku memang tak ada niat untuk bertemu dia lagi, apa lagi sampai akrab kembali seperti dulu. Rasanya untuk mengingatnya saja aku sangat membencinya.

“Kakak satu sekolah sama kak Gheziera?” Kayesha pun membuka pembicaraan, tepat pada dugaan ku pasti dia yang akan berbicara lebih dulu.

“Iya kenapa?” Jawabku

“Nggak sih, udah ketebak pasti satu sekolah terus satu kelas, iya kan?” Senyum terpaksa Terlihat jelas di mukanya.

“Hahah kita memang satu sekolah lagi tapi kita beda kelas dan beda kegiatan ekstra disekolah”

“Ah, gue salah ya? Hahahh maklum kak liat kalian begiti deket jadi berfikir begitu”

“Jangan mikir aneh-aneh tentang gue sama dia, kita nggak pacaran kok” Ucapan ku yang saat ini membuat perlahan tawa Kayesha mereda ia mungkin berfikir tak menyangka jika ia dan Gheziera hanya bersahabat.

“Nggaa, sebenernya gue udah lama pengen ketemu kakak, tapi nggak pernah ketemu dan gue seneng banget kita bisa ketemu disini” Tangannya meraih tangan ku, menggenggamnya dengan erat dengan penuh perasaan.

“Ada apa, kenapa mau ketemu? Bukannya dulu gak mau ketemu lagi seumur hidup?” Aku menatapnya tajam dan membiarkan tanganku digenggam olehnya.

“Kak, sebenarnya gue ga sanggup buat benci lo, sampai kapanpun gue gak akan bisa lupain lo, karna rasa sayang ini lebih besar dari apapun, gue masih sayang sama lo kak. ”

Kini tubuhnya telah memelukku semua, aku terhanyut dalam suasana tapi aku segera mencegah itu, aku tak ingin berurusan cinta dengan nya lagi dan lagi pula saat ini dia ingin sendiri. Konon katanya, Cinta pertama hanyalah sedikit kebodohan dan banyak rasa ingin tahu.

Author POV

Gheziera berjalan setelah memesan ice cream untuk Kayesha, Dan betapa terkejutnya Gheziera saat ia melihat mereka berdua berpelukan yang terlihat Kayesha memeluk erat dari belakang badan Rangga.

Gheziera tak yakin dengan apa yang dilihatnya, ia menggosok matanya berulang kali ternyata apa yang dilihatnya begitu nyata, entahlah padahal dia sudah lama bersahabat dengan Rangga tetapi mengapa hatinya begitu tak terima dengan apa yang dilihatnya, dadanya sesak, matanya perih seakan ada air mata yang siap-siap membanjiri pipinya. Tetapi rasa itu dihiraukannya, ia ingin mendengar pembicaraan mereka berdua.

Gheziera pun berjalan perlahan mendekati pintu masuk yang tak jauh dari meja mereka yang mana seharusnya meja itu digunakan untuk makan eskrim mereka berdua Gheziera dengan Rangga, sebelum ada Kayesha yang seharusnya Kayesha tidak pernah ada lagi di kehidupannya Rangga.

Sekujur badan Gheziera dingin dan kaku. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar, ntah apa yang membuat tubuh gadis ini lemas seakan kata-kata yang dia dengar ada aliran listrik yang langsung mengenai tepat hatinya, dan seakan tersentrum wajahnya ikut pucat, padahal dia hanya menyayangi Rangga sebagai sahabat, bahkan seperti saudara. Lagi pula dia dan Rangga sudah berjanji agar tidak saling memiliki perasaan dan tidak saling mencintai, tetapi perasaan apa yang kini ia rasakan saat itu cemburu, kata itu yang saat ini terlintas dipikiran Gheziera.

“Mereka balikan lagi?” Gheziera bicara tanpa suara, kakinya lemas tak berdaya, ia terduduk dibalik pintu, ia tak sanggup berdiri, hatinya seperti diremuk-remuk. Tetapi bukankah rasa nyamannya selama ini hanya sekedar teman tak lebih.

Tak lama ia berdiri dengan air mata yang siap jatuh menghujani pipinya ia berlari keluar dengan kaki yang bergetar, dan tanpa disadari mereka berdua yang sedang berpelukan membelakangi Gheziera, Gheziera hanya menatap dengan mata yang berkaca-kaca dan mulai meninggalkan kedai itu.

Gheziera terbangun dari tidurnya, diliriknya jam dinding dikamarnya yang berwarna pink saat itu pukul 10 malam, matanya melihat kearah jendela kamarnya yang menampilkan cahaya bulan yang indah dan terlihat menembus kaca jendelanya.

Gheziera turun dari tempat tidurnya yang bergambarkan karakter kartun Jepang yang lucu. Sejak kecil ia memang sangat menyukai hal yang lucu-lucu dan berbau manis serta gemas.

Ia menunduk melihat badannya yang masih terbalut seragam sekolah yang terlihat sangat berantakan. Ia baru tersadar sepulang sekolah. Salah, lebih tepatnya sepulangnya dari kedai eskrim sore tadi ia tak langsung mengganti pakaiannya karena pikirannya yang sangat campur aduk.

“Huh kenapa aku gini sih?” Keluhnya kesal, ia berdiri membuka lemari yang bercat cream, segera ia meraih piyama nya yang berwarna pink dan bergambar kucing besar didepan piyama nya. Tak perlu waktu lama untuk mengganti pakaian kini Gheziera sudah memakai piyama kesayangannya.

Ia berjalan mendekati jendela diliriknya sebentar pemandangan malam sambil mengikat rambutnya asal, kemudian mengambil handphone nya diatasi meja, belum sempat ia menyentuh handphone nya ‘klink klink’ Handphone nya berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk.

“Rangga?”


Chat

Rangga:

Zi! Gheziera!

Lo kemana? Tadi lo ninggalin kita?

Zi read dong

Ih lo tidur ya? Kenapa ninggalin gue?

Gheziera Chlaudia Azzara!

Sumpah lo kenapa Zi? Cerita donggg

Kalo udah bangun bales yaaa

Aku menatap lama layar handphoneku, aku sudah menebaknya kalau Rangga akan khawatir, buktinya saja beranda chatku penuh dengan pesan dari dia, awalnya aku berfikir akan abaikan saja, ternyata hatiku berkata lain. Jari-jari kecilku sudah mengetik untuk membalas pesan darinya.

Gheziera:

Gue gapapa. Tadi ada urusan mendadak jadi duluan deh, WKWK

Lo spam mulu, ganggu gue aja

Rangga:

Yaampun baru dibales, bentar.

Gue kira ada apa-apa sama lo, soalnya raut muka lo lagi gak baik tadi gue liat, lo kenapa?

Gheziera:

Ih gak ada apa-apa rangga, lagi PMS aja soalnya tadi, hehe.

‘Kring Kring Kring’ Suara dering telepon yang berasal dari handphone Gheziera.

“Hallo? Rang?”

“Jadi, lo kenapa nih?”

“Nggak, tadi gue dapet telfon dari ketua kelas, berkas dia ketinggalan dirumahnya, sibuk dia nya ”

“Oh gitu, bener nih karena ketua kelas?”

“Iya, beneran”

“Yaudah deh, btw besok mau jalan gak Zi?”

“Gue ayok aja sih”

“besok gue jemput jam 11 ya”

“Yaudah deh, bye”

Goodnight, sweet dreams Zi”

Tuuuttt….

Gheziera membanting kasar handphonenya keatas kasur, disusul dengan badannya yang terkulai lemas diatas kasur. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar “huhhh…”

“Kok rasanya sakit kalau diingat kejadian yang tadi sore ya, tapi lucu ya mood gue baikan setelah Rangga nelfon” Matanya menatap langit-langit kamarnya yang bertaburan hiasan berbentuk bintang, sambil tersenyum sendiri, ternyata ia tersipu dengan apa yang dikatakan Rangga, tanpa sadar ia ingat akan hiasan bintang dikamarnya itu, Hadiah ulang tahun Gheziera dari Rangga 2 tahun lalu yang ia tempelkan bersama Rangga.

Tanpa disadari matanya kini kian lama kian menyipit karena rasa kantuk yang tak bisa Gheziera tahan lagi, dan kini ia telah terbawa alam mimpi, ia telah tertidur dengan nyenyak.

Gheziera POV

Kini badanku terasa jauh lebih segar. Aku masih bertanya kemana Rangga akan membawaku? Aku berjalan pelan menuruni anak tangga, kulihat dari jauh seorang lelaki dengan kemeja putih yang dia kenakan sudah berada di atas motor berwarna hitam itu, ia memasangkan helm di kepalaku, lalu kami bergegas pergi menuju suatu tempat.

Aku tidak tahu, di perjalanan semuanya menjadi sunyi, Rangga menjadi pendiam. Seperti bukan Rangga saja. Biasanya di atas motor dia akan bercanda tawa, seperti membawa motor dengan ugal-ugalan agar aku merengek atau membicarakan orang asing yang lewat sekilas agar aku tertawa.

Tanpa menghabiskan banyak waktu kami pun tiba tempat makan favorit berdua. Aku duduk dengan santainya dan Rangga mulai memesan, oh Rangga sudah hafal apa saja yang aku mau, aku hanya menunggu saja. Setelah Rangga selesai memesan, ia kembali menghampiriku. Dia masih saja terdiam sedari tadi.

Pelayan telah datang, menyajikan banyak makanan. Alangkah kagetnya aku, kopi dan kue tersaji dan disana terpampang tulisan pernyataan cinta, bertulis I Love You.

“Gue suka sama lo.” Apa? Aku membeku seketika. Apa-apaan ini? Rangga yang tadi hanya diam, ia mengangkat pembicaraan. Aku menutup mulutku dan rasanya aku ingin terbang sekarang. Aku merasa sangat bahagia saat itu juga, kupu-kupu dalam diriku mulai beterbangan.

“Gue boleh panggil lo sayang di setiap saat?” Aku tidak bisa berkata-kata saat sepasang bola mata kami saling bertatapan. Oh! Situasi macam apa ini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benakku. Namun, jatuh cinta berkal-kali pada cinta pertama kita adalah sebuah keajaiban yang takkan terlupakan.

Aku lantas hanya menganggukan kepala, tanda mengiyakan. Dan tiba-tiba saja tangannya meraih tanganku yang menganggur diatas meja.

“Yess! Thank you and i love you, Gheziera Chlaudia Azzara.”

I love you more, to the moon and back.”

Aku tidak percaya ini, aku jadian sama sahabatku sendiri!? Aku jadian sama Rangga?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *