‘Erlis laundara fauzaki’ ialah mahasiswi S2 yang sangat pintar dan di kalangan teman seangkatannya. Lulus dengan kategori Cum Laude. Di Universitas Indonesia atau biasa di kenal ‘UI’.
Namun walau begitu ia mempunyai perjalanan yang cukup menyakitkan dalam hidupnya. Ayah dan ibunya sudah cerai sejak dia berumur 1 bulan. Saat itu dia juga tidak di inginkan oleh kedua orang tuanya, sehingga ia di urus oleh kakeknya.
Erlis memliliki seorang kakak lelaki yang menyayanginya. Dirinya dan kakak nya berbeda 8 tahun. Tetapi mereka sangat akrab. Berbeda dengan kakeknya, dirinya sangat tidak menyukai manusia yang tidak berperasaan itu. Rasanya hati nya telah tertutup dan di butakan oleh uang.
Saat itu erlis baru saja pulang dari kuliahnya, dengan tubuh yang lemas dirinya menelusuri lorong rumah. Ia sekarang hanya tinggal sendirian di rumah itu, karena kakak lelakinya dan juga kakeknya sudah lama tiada meninggalkan dirinya seorang diri.
Saat hendak melewati kamar kakak laki-lakinya, dia terhenti sejenak. Rasanya memang sudah lama erlis tidak mengunjungi kamar kakaknya lagi. Saat memasuki kamar itu, erlis Kembali teringat dengan kenangan masa kecilnya. Sepertinya masih baru kemarin erlis melompat-lompat riang di atas Kasur milik kakaknya. Senyum tipis terukir di wajah nya, sampai dirinya melihat sebuah benda bewarna kuning yang mencolok di bawah bantal-bantal itu.
Ternyata itu adalah sebuah buku yang terlihat asing di matanya. Andrean diary sampul awal buku itu. Dengan penasaran erlis membuka buku itu…
Flashback. Bogor 2009.
‘PRANGG!!’ Suara piring kaca yang di pecahkan
Soeban: “Kan, sudah saya bilang!!! Kalau mencuci piring itu yang bener!!…” soeban membentak keras dan menakutkan, kemudian beranjak pergi meninggalkan Andrean yang memaku tak bergerak.
Hari-hari begitu sudah biasa di jalani oleh Andrean, “Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugrahi sesuatu yang melebihi kesabaran” (HR Bukhari No 1469). Begitu bunyi hadits yang dibacakan oleh guru nya, dan itu membuat dirinya bertahan hingga sekarang.
Andrean beralih menatap kearah anak perempuan yang sedaritadi bersembunyi di balik tembok.
Andrean: ”Eli sini.”panggil Andrean lembut. Dengan pelan anak perempuan yang di panggil Eli itu mendekat.
Andrean: “ini sudah malam, eli kenapa gak tidur? Nanti sakit lho, besok kan hari pertama Eli masuk TK.” Ujar Andrean dengan lembut sambil membelai pelan kepala Erlis. Erlis hanya diam saja tak menjawab, namun mimik wajahnya sangat mengatakan bahwah dirinya ingin di temani untuk tidur. Andrean tertawa kecil sambil mencubit pelan pipi bulat erlis.
Andrean: ”Yaudah, Kakak temanin, tapi bentaran ya, kakak mau beresih ini dulu” Erlis mengangguk.
Beberapa minggu setelah elis mulai bersekolah, Andrean selalu rutin mengantar dan menjempunya tanpa kata terlambat, bahkan dia tak segan-segan meminta izin kepada guru nya setiap jam 10.00. karena tidak ingin membuat si adik menunggu.
Namun sepertinya hari ini kakaknya terlambat menjemputnya. Erlis duduk di tempat duduk yang tersedia di depan pagar TK itu, sesekali ia melihat kekanan dan kekiri untuk memastikan kehadiran kakak nya. Tetapi masih mebul menemukan tanda-tanda kakaknya, bahkan sekarang TK mulai sepi, dan yang masih setia menunggu jemputan disana, hanyalah Erlis dan seorang teman seangkatannya.
“Mama!.” Teriak anak itu dengan senang ketika Ibunya datang menjemput dirinya. “Mama!! Kenapa mama lama datang!! Aku sendilian di sini!…”rengek anak itu setelah memeluk Ibu nya. “maaf, ya nak, tadi mama ada urusan lain, nanti mama belikan jajan, deh.” Bujuknya. “yeeey…” sorak riang anak itu. Lalu pergi dengan Ibu nya dengan menaiki motor.
Erlis sedari tadi hanya memerhatikan interaksi keduanya. Mungkin itu adalah hal biasa, karena itu hanyalah interaksi antara Ibu dan Anak. Tapi berbeda dengan isi pikiran Erlis saat ini, itu mungkin adalah sesuatu yang biasa namun itu adalah sesuatu yang mustahil ia dapati. Jangan kan untuk di jemput oleh Ibunya, dirinya saja tidak tau kemana pergi Ibunya, bagaimana rupa Ibunya, dan kasih sayang seperti apa yang akan ia dapati jika bersama Ibunya. Dari lahir hingga sekarang ia belum mengetahui bagaimana rasanya memeluk sesosok orang yang telah melahirkannya.
Ayahnya? Tidak, jika Ibu saja tidak ia dapatkan, apa lagi seorang Ayah yang seharusnya menjadi cinta pertamanya. Sangat ingin baginya menggenggam tangan seorang Ayah yang membanting tulang demi menafkahi keluarganya. Ibu dan Ayah… Yang seharusnya menjadi orang pertama yang ia sebut namanya, tidak pernah ia menyentuh ujung jarinya. Yang seharusnya memperlakukan dirinya layak seorang putri kecil, tidak pernah ia cium tangannya.
“Dunia ini memang kejam, kamu hanya perlu menikmati setiap rasa sakit yang di dapati.” Saat ini isi pikiran Erlis hanya satu.
Erlis: “Seperti apa jika eli menggenggam kedua tangan Ibu dan Ayah?…” Bisik nya dalam hati.
Andrean kini tengah sibuk berlarian di pinggir kota, dengan kakinya yang terpincang-pincang, dirinya tidak ingin menghentikan langkah walau hanya memeriksa keadaan dirinya yang penuh memar. Andrean terlambat menjemput Erlis karena, sehabis ia meminta izin dan hendak pergi keluar pagar sekolah.
Dirinya di hadang oleh ‘Glian’ dan kelompoknya.
Glian: “kan, sudah gue bilang! Jangan berani-berani nilai lo di atas gue!..” Andrean mengerutkan keningnya, heran. Dan itu membuat Glian makin kesal, karena tampang Andrean seperti seorang buronan dengan muka tidak merasa berdosa bagi nya.
Glian: “Cih, bawa dia!..” Perintah Glian kepada teman-temannya, dan menarik paksa Andrean kebelakang sekolah.
Pukul 15.24. Andrean akhirnya sampai di depan TK nya Erlis, ia juga telah melihat Elis yang masih setia duduk di kursi depan pagar TK nya. Saat melihat Erlis yang tersenyum lebar seakan telah lama menanti dirinya datang, itu membuat Andrean ikut tersenyum lebar, sehingga saat dirinya ingin menyeberang ia kehilangan konsenstrasi untuk melihat kekanan dan kekiri terlebihdahulu.
…
Erlis terus menangis di ruang tunggu sebuah clinic di pinggir kota, di temani oleh seorang laki-laki teman kakaknya. Kakanya baru saja tertabrak mobil.
Walau tidak kelihatan parah, namun Elis masih bisa membayangkan bahwa yang terkena itu adalah badan kakaknya yang membuat kakaknya terpental dan wajahnya lah yang pertama membentur aspal yang tidak rata nya banyak yang belubang-lubang.
Erlis: “k-kakak dara gak apa-apa kan, kak?…” Tanya Erlis dengan suara yang pelan dan bergetar.
???: “Ya, dia gapapa jangan khawatir” Orang itu mencoba menenangkan. Tapi bohong jika dirinya tidak mengakui bahwa pasti ada bagian tubuh atau organ tubuh Andrean yang sudah tak bisa di gunakan. Karena dirinya juga berada di TKP saat itu.
Erlis mengangkat kedua tangan nya.
Erlis: “Alohuma raba nasi, basa isti atas safi la safiya yud hadiru saqma” lelaki itu memerhatikan bagaimana cara Erlis membaca untuk ke sehatan abang nya, walau salah, tapi mampu membuatnya kagum. Dengan senyum ramah lelaki itu menarik lembut tangan Erlis. menyatukan tangan erlis di atas tangannya, lalu membentuk kedua tangan itu seperti hendak berdo’a.
???: “sini, kita baca bareng-bareng.” Lalu Remaja itu menuntun Erlis membaca do’a dengan benar.
“Syafakallahu saqamaka Andrean lesnandra fauzaqi, wa ghafara dzanbaka, wa’afaka fi dinika wa jismika ila muddati ajalika “Artinya: Wahai Andrean lesnandra fauzaqi, semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiakanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia” Tuturnya dengan do’a di ikuti oleh Erlis.
Erlis: “Makasi, kak Glian” seru nya dengan senyum manis.
Glian: “ya.”
Bogor 2016.
Erlis: “kakak!.. sisi nih!, eli dapet seratus ulangan IPA” Sombongnya
Andrean: “oh, iya kah? Hooo…” Seru Andrean seakan tidak semangat. Erlis yang melihat itu merasa kecewa dengan reaksi santai kakaknya.
Erlis: “ish! Kakak!… eli udah usaha lho! Jahat, minimal di puji kek” Ujarnya dengan cemberut dan menggembungkan kedua pipinya seperti bakpao. Andrean hanya tertawa mendengar reaksi adiknya, walau ia sudah tidak bisa melihat lagi tapi ia masih bisa merasakan kekesalan adiknya.
Andrean lalu bangkit dari kursinya dan meraba-raba di samping kursi itu untuk menemukan tongkat pemandunya. Ia baru bisa menemukannya di saat Erlis membantunya untuk memberikan tongkat itu.
Andrean: “sudah-, sekarang bantuin kakak bersihin rumah, ya. Sebelum kakek pulang, entar kita di marahin lagi sama aki-aki itu.” Ucapnya nya dengan sedikit candaan. Dan mendapatkan tawaan receh oleh Erlis.
…
Shalat baru saja selesai, dan kini masjid itu mulai sepi karena jama’ah yang sudah berpulangan. Tetapi ternyata ada seseorang yang masih setia duduk di masjid itu. Bukan karena masih ingin memperpanjang do’a, tapi ternyata orang itu telah di bisikan oleh setan, sehingga mendekati kota amal di masjid itu.
Soeban baru saja pulang dari masjid sehabis berjama’ah zuhur. Kaki nya yang keriput, mendayung sepeda tidak terlalu kencang dan tidak terlalu pelan juga. Senyum nya sedari tadi tidak luntur juga, membuat orang yang di lewatinya menatap heran kepada pria lanjut usia itu.
Sesampainya di rumah. Pria lanjut usia itu langsung masuk tanpa salam, kaki nya yang kotor membuat lantai yang sudah di bersihkan kini bercap lumpur. Seakan tidak peduli dengan apa yang telah di lakukannya sewaktu di masjid. Lelaki paruh baya itu duduk di sofa sambil mengeluarkan berlembar-lembar uang yang ia bungkus dengan plastik kresek hitam.
Andrean: “wa’alaikumsalam, kakek udah pulang kek?” Tanya ramah Andrean yang baru keluar dari dapur dan merasakan sesosok orang yang berada di ruang tamu.
Soeban: “hm”sahut singkatya.
Andrean: “Apa itu kek? Sepertinya banyak suara gesekan kertas?. Uang?.”
Soeban: “iya, tadi saya baru saja ngambil uang di kotak amal masjid” Jawabnya dengan enteng seakan itu hanyalah sesuatu yang dapat di sepelekan
Andrean: ”Astaghfirullah, kakek! Itu dosa kek! Dosa! Haram! Nabi tidak mengajarkan kita untuk men-“
Soeban: “Diam!!… terserah saya ingin melakukan apa! Lagian kita tak cukup dana untuk bayar obat-obatanmu! Makanya! Jangan buta!! Jika kamu tidak cacat seperti itu, saya juga tidak mengambil uang ini!!.” Andrean menggelang tidak percaya apa yang baru saja kakeknya katakan. Kakeknya benar-benar telah di butakan oleh uang.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Masyarakat mulai mensebar luaskan berita tentang hilangnya uang kotak amal di masjid. Kabar itu juga sudah sampai di telinga keluarga fauzaqi.
Andrean: “kakek, seharus nya kakek tidaak melakukan itu…, itu dosa kek! Dosa!” Andrean mencoba menasehati
Soeban: “Diam!, sudah berapa kali saya bilang, saya lakukan ini karena kita yang kekurangan dana! Dan jika kamu ingin membocorkannya, maka lihat saja! Adik mu yang bakal saya celakai.” Andrean seketika terbelalak kaget, bagaimana kakeknya bisa mengatakan itu kepada dirinya, dan menjadikan posisi adik nya yang tidak tau menahu menjadi korban. Andrean hanya diam tak ingin menjawab lagi, percuma saja jika ia membujuk pria lanjut usia yang sudah ditutup matanya oleh setan.
Soeban sedang mencoba mengangkat tumpukan batu bata dan di pindahkan untuk membentuk suatu ruang kecil yang muat untuk dijadikan sebagai tempat penyiimpanan uang.
Soeban: “bagus, dengan begini tidak akan ada yang bisa tau kalau uang uang ini bersama saya…” ucapnya dengan yakin, dan meletakkan seluruh uang curiannya di dalam ruang kecil itu. Namun saat ia hendak menutup ruang kecil itu dengan 5 batu bata yang berada di pelukannya, tiba tiba kakinya menginjak sesuatu yang licin sehingga ia tergelincir. Seperti yang di katakan sepada suatu hadits.
“Dari shahābat Abi Shirmah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allāh akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allāh akan menyusahkan dia.”
(Hadīts riwayat Abū Dāwūd nomor 3635, At Tirmidzi nomor 1940 dan dihasankan oleh Imām At Tirmidzi).
Setiap orang akan di pulangkan di tempat yang seharusnya ia tempati, sama seperti mendaki gunung, sehabis mendaki pasti akan turun kembali. Sehabis bermewah-mewah sekarakah sumpah serapa, maka roda kehidupan akan berputar sehingga serajatnya tidaklah melebihi sebatas hewan ternak yang kabur, dan di pukul untuk kembali.
Dan itu yang di alami oleh soeban, dirinya membentur tanah dengan keras, dan seluruh batu bata yang di genggamnya, terlempar di udara dan mengenai dirinya.
Andrean baru saja pulang ke rumah, dan mendengar suara kerusuhan dari belakang rumah. dan saat dirinya kebelakang, ia tak menemukan apapun karena memang ia tak bisa melihat apapun, tapi tongkatnya menyentuh sesuatu yang keras. Sepertinya itu adalah batu bata yang disusun membentuk sebuah ruangan kecil. Andrean tidak pernah merasa ada tempat seperti itu. Ia pun berjongkok dan meraba raba untuk memeriksa.
???: “Aaaaaaaaaa!!…” teriak perempuan paruh baya yang berada di belakang Andrean.
…
Andrean: “kumohon pak! Itu bukan saya! Demi Allah!!” Tapi nihil, Andrean tetap di tarik oleh salah satu pihak polisi itu.
Erlis baru saja pulang dari SMP nya. Dan melihat rumahnya yang sudah ramai, bahkan ada mobil polisi disana. Saat Erlis melihat Kakak nya yang di tarik oleh pihak kepolisian. Erlis langsung berlari menerobos kerumunan orang-orang itu.
Erlis: “Kakak!!” Andrean yang mendengar suara Elis yang memanggil langsung memberontak melepaskan diri, dan lari tak tentu arah mencari kemana asal suara sang adik.
Andrean: “ Erlis!!… dimana kamu! Erlis!”Andrean mencoba memanggil dan mengejar suara namun ia segera di tarik oleh pihak kepolisian.
Andrean: “tidak, kumohon biarkan aku bertemu dengan adik ku dulu!”
Erlis: “kakak!! Kakak kenapa!? Jangan pergi!!” Erlis mencoba mengejar kakaknya yang di tarik paksa.
Andrean: “Erlis… tolong kakak!!” air mata telah membasahi kedua pipi kakak beradik itu.
Erlis: “kak! Jangan pergi!! Erlis gak mau tinggal sendirian!! Kak!!”panggil erlis dan mencoba menerobos kerumuhan berharap bisa menyentuh tangan sang kakak. Namun saat dirinya hampir menyentuh tangannya, hujan turun dengan deras, sehingga kerumunan orang itu langsung berlarian panik karena tidak ingin basah. Erlis terbawa oleh dorongan orang orang yang menjepitnya sehingga dirinya tak sempat menyentuh tangan kakaknya.
Andrean: “Innallaha kaana ‘aliiman hakiiman(Sungguh allah maha mengetahui lagi maha bijaksana)!!” Ucapnya lantang sebelum ditarik masuk kedalam mobil polisi itu.
Flashback off.
Rintikan air mata mengucur deras di pipi Erlis. Bagaimana bisa dirinya menemukan diary milik kakaknya?. Terlihat dari buku itu sudah sangat layu, warnanya pun sudah memudar. Sekejap Erlis tertunduk beberapa saat mengenang kembali kakaknya. Dirinya masih ingat saat ketika kakaknya meninggal.
Saat itu kakaknya sedang di sidang dalam kasus pembunuhan kakeknya, walau sudah berusaha keras membela diri, dirinya sama sekali tidak ada yang percaya. Dan pada akhirnya kakaknya di tetapkan hukuman penjara seumur hidup. Tetapi saat kakaknya baru saja berdiri hendak di antar ke-sel nya, kakaknya tiba tiba terjatuh dan meninggal saat itu juga.
”Setiap manusia akan mendapatkan ujian dari Allah swt, baik berupa kesenangan ataupun kesulitan” (QS. Al-Baqarah ayat 155-157)
Rasulullah SAW bersabda, “Mati mendadak suatu kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka.” (H.R.Ahmad,)
Tiba-tiba handphone Erlis bergetar. Ada notif dari teman kuliahnya bahwa mereka salah membuat laporan sehingga Erlis harus kembali ke tempat pertemuan. Erlis segera bangkit dan menyeka air mata nya. Sebelum dirinya keluar menutup pintu, Erlis menyempatkan diri untuk melihat kebelakang lalu tersenyum memandang kamar kakaknya, kemudian barulah dirinya menutup kamar kakaknya dengan rapat.
Tunggu, sebelum cerita ini tamat. Tidakkah kamu penasaran bagaimana buku itu baru di temukan oleh Erlis setelah sekian tahun?, Apalagi buku itu terletak di tempat yang sangat kentara seperti di bawah tumpukan bantal, yang seharus nya saat Erlis membersihkan tempat tidur, maka ia sudah menemukan buku itu jauh-jauh tahun.
Ya, pasti ada yang meletakkan nya. Seseorang yang sedari tadi terus memerhatikan dari tempat yang sulit terpikiran oleh manusia.
???: “Dia sudah membacanya pak.” Ucap seorang pria berbadan tegap sambil bertelefon dengan seseorang.
???: “Bagus, sekarang kembalilah Glian, sebelum kau ketahuan”ucap orang di seberang telfon sana
Glian: “ya, pak. Saya rasa anak bapak Erlis sudah pergi, tak bisakah aku mengikutinya, pak sohier.”tanya nya sopan
Sohierno: “ya, terserahlah. Asal kau tidak mencelakai anak saya.”
The End

Leave a Reply