Nara Amirtha adalah perempuan yang mudah bergaul serta aktif di SMK Guna Dharma. Nara memiliki teman yang bernama Riney Lilya yang sangat baik. Mereka berteman sejak kecil, Iney sangat mengenal Nara begitupun sebaliknya. Suatu hari, salah satu organisasi di SMK Guna Dharma yaitu OSIS sedang merekrut anggota baru.
“Nara! Ayo kita ikutan biar jadi anggota OSIS” Ajak Iney dengan semangat.
“Hmm… gimana ya Ney aku bingung” Nara masih bimbang untuk ikut OSIS.
Iney pun tidak berhenti membujuk Nara agar ikut menjadi anggota OSIS. “Ayolah Nara, kapan lagi kita ikut beginian. Ayo raaa.”
Nara yang masih berfikir pun memantapkan hatinya agar ikut “Oke deh Ney aku ikut, biar nambah pengalaman.”
Nara dan Iney menghampiri kakak OSIS yang sedang membagikan beberapa lembaran perekrutan anggota OSIS yang baru. “Kak saya dan teman saya mau ikut daftar juga kak.” Ucap Iney ke kakak OSIS. Kakak OSIS menjawab “Oh iya boleh banget dek.” Kakak OSIS nya pun memberikan serta menjelaskan ketentuan pendaftaran nya.
“Ayo ra kita ke kelas buat ngisi kertas pendaftarannya.” kata Iney yang sudah tidak sabar untuk menuju ke kelas. Setelah selesai mengisi formulir pendaftaran, mereka masing-masing mengambil foto untuk di cetak. Besok harinya mereka mengumpulkan formulir pendaftatan lebih awal dari yang lain. Nara dan Iney tinggal menunggu tes nya saja. Jam pulang sudah tiba, mereka bergegas pulang kerumah masing-masing.
Hari sabtu pagi, Nara mendapat kabar bahwa ayah Nara kecelakaan tunggal di dekat rumahnya. Nara yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya langsung kaget. Nara takut, takut untuk kehilangan sosok yang sangat ia sayangi. Ibu Nara yang mendengar kabar langsung dari rumah sakit segera menuju rumah sakit. Untungnya rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari rumah Nara.
Senin paginya saat Nara mau berangkat ke sekola, ada pengumuman orang meninggal di musholah dekat rumah Nara, saat itu nara menghentikan aktifitasnya untuk mendengarkan pengumuman pagi itu. Jantung Nara berdetak dengan sangat cepat, Nara menajamkan pendengarannya, jantung Nara lemas bukan main saat kata terakhir yang di ucapkan ternyata adalah tetangga Nara. Iya tetangga Nara yang meninggal. Nara langsung menangis takut, panik, serta lega. Pagi itu perasaan Nara sudah campur aduk.
Setelah kejadian yang kurang mengenakan itu Nara bergegas berangkat ke sekolah dan melakukan kegiatan di sekolahnya dengan ceria kembali. Pada jam istirahat ada pengumuman dari sekolah, bahwa di SMK Guna Dharma akan melaksanakan kegiatan LDKS.
Hari pelaksanaan LDKS pun sudah tiba, dimana dari pagi sampai malamnya semua siswa-siswi melaksanakan kegiatan LDK dengan penuh keceriaan. Tetapi tidak dengan Nara, Nara terus memikirkan ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Nara kaget saat Iney memanggil namanya “Nara jangan bengong ayo kita seru-seruan.” Teman Nara yaitu Iney yang memang tau keadaan Nara saat itu salalu berusaha membuat Nara agar tidak sedih. Nara hanya tersenyum sebagai tanda balasan atas ucapan Iney.
Tanpa terasa waktu LDK sudah tinggal beberapa jam lagi mejelang SERTIJAB dan setelah itu acara LDK selesai. Tidak terasa waktu sudah siang hari. Sudah saatnya SERTIJAB. Nara yang mendengar namanya di sebutkan menjadi salah satu anggota OSIS, perasaan Nara saat itu bahagia sekali.
Setelah selesai semua acara LDK semua peserta pulang ke sekolah. Nara menunggu jemputan nya ke sekolahan, 30 menit berlalu jemputan Nara pun sudah sampai di sekolah.
Malam hari nya Nara istirahat setelah kegiatan yang cukup melelahkan bagi Nara. dihari Minggu Nara membantu ibu nya membereskan rumah dari kegiatan mencuci, menyapu, hingga mengepel. Waktu berlalu begitu cepat besok harinya sudah hari senin, Nara bangun pagi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah, dirasanya sudah siap Nara berangkat jam 06.00, 15 menitan Nara sudah sampai di sekolah.
“Assalamu’alaikum, pagi semuaa” Ucap Nara dengan semangat. Lalu Iney menghampiri Nara, mereka berdua saling bertukar cerita. Tak terasa sudah masuk jam pelajaran pertama, Iney kembali kemejanya dan Nara fokus memperhatikan guru yang sedang menyampaikan materi.
kringgg
Bel istirahat sudah berbunyi yang menandakan waktu istirahat.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Panggilan kepada Nara Amirtha dan Riney Lilya silahkan menuju ke kantor.” Panggilan dari kantor membuat Nara dan Iney deg-degan. Mereka berdua langsung menuju ke kantor menemui guru yang memanggil.
“Assalamu’alaikum ibu” Ucap Nara dan Iney saat memasuki kantor. “Duduk di situ dulu ya ra.” Nara menuruti ucapan Ibu guru. “Iney, ibu minta tolong bawakan tas serta bawaan Nara turun ya nak.” Iney yang bingung pun hanya bisa meng-iyakan perintah Ibu guru.
“Ada apa ibu memanggil Nara? ” kata Nara penasaran.
“Tidak ada apa-apa, Nara bawa handphone? ” Tanya ibu guru.
“Bawa Buu.” Balas Nara.
“Ambil nak HP kamu.” Nara dengan bingung mengambil HP nya yang berada di kantor.
“Assalamu’alaikum ibu, ini ibu tas Nara. ” Iney sudah kembali ke kantor dengan membawa tas Nara.
“Ada apa ya bu? Kenapa tas Nara di bawa turun?. ” Nara bertanya-tanya kepada ibu guru.
“Ibu ini kenapa? Soal bapak Nara ya? Bapak Nara emng kenapa? Bapak Nara baik-baik aja kan bu? ” Entah kenapa pikiran Nara tertuju ke Bapaknya yang sedang di rawat di ruma sakit. Nara bertanya-tanya dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa bu? Nara kenapa? ” Nara masih bertanya tentang keadaan yang membuat Nara bingung.
“Nara tunggu sini dulu ya nak.” Ucap ibu guru itu.
“Kenapa bu? ” Dengan mata yang berkaca-kaca Nara bertanya pelan kepada guru yang lain.
“Gapapa de, bapak kamu baik-baik aja kok. ” Ucap guru itu.
Namun entah kenapa Nara tidak percaya yang di ucapkan guru itu.
Tidak lama pintu kantor di ketuk, ibu guru membuka pintu kantor yang di ketuk itu. Nara melihat tetangganya yang bernama Ibu Ina, Nara makin bingung lagi setelah tetangganya itu datang.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tetangga aku ada di sini?
“Motornya Nara mana ya? ” Ucap Ibu Ina
“Ada di parkiran bu.” Balas Nara
“Kasih kunci motornya ke teman kamu nanti Ibu yang bawa pulang, kamu sama satpam rumah ya pulangnya. “
“Bapak Nara baik-baik aja kan bu Ina? ” Tanya Nara
“Kamu pulang dulu aja, kamu belum jenguk bapak kan?, sekarang pulang terus jenguk bapak ya? ” Ucap Ibu Ina
Nara mengangguk pelan
Diperjalanan pulang satpam rumah yang bernama Pak Uji terus menerus mengajak Nara berbicara.
“Dulu saya sama bapakmu itu deket banget ndok. Bapakmu itu ya baik banget sama saya. ” Kata Pak Uji.
“Pak Uji satu perguruan silat sama bapak ya? Bapak baik-baik aja kan pak? ” Tanya nara
“Iya saya satu perguruan sama bapakmu. Bapak mu sekarang baik-baik aja. ” Jawab Pak Uji.
Tak terasa sudah sampai gang rumah Nara
“Kamu jadi anak perempuan yang kuat ya. “
Kata ak uji.
Nara yang sudah melihat di depan rumahnya ada bendera kuning tidak mendengarkan perkataan pak Uji.
Nara turun dari motor dan masuk ke dalam rumah dengan kaki yang lemas. “Ada apa ini? Kok rame banget”? Ucap Nara, bersamaan itu Nara menatap mata tetangga-tetangganya yang memerah.
Nara di ajak masuk ke kamarnya oleh kedua teman rumah nya.
“Ra kamu ganti baju dulu ya kita berdua nunggu di luar. ” Kata salah satu teman Nara yang bernama Mba Tia.
Selesainya Nara ganti baju, kedua teman Nara masuk ke kamar. Lalu Nara bertanys hal yang sama.
“Ada apa sih? Kok rumah aku rame? Bapak aku baik-baik aja kan? ” Mata Nara mulai berkaca-kaca lagi.
“Mba jawab! Bapak aku kenapa?” Kata Nara
“Bapak udah baik-baik aja kok ra, kamu harus kuat ya. ” Jawab Mba Rina.
“Emangnya bapak kenapa Mba???” Tanya Nara
“Kamu yang sabar ya ra. ” Kata Mba Rina dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mba, Nara belum jenguk bapak Mba, bapak masih ada kan???” Jawab Nara yang sudah mulai menangis.
Mba Rina dan Mba Tia langsung memeluk Nara.
“Kamu yang sabar ya Nara, bapak udah tenang di sana, kamu disini yang kuat. ” Jawab Mba Rina.
Tak di sangka Mba Rina dan Mba Tia pun sudah menangis.
“Aku belum jenguk bapak Mba. ” Nara berkata sambil menangis.
“Iya Mba tau, tapi kamu harus kuat ra. ” Kata Mba Tia menguatkan Nara.
“Aku belum jenguk bapak Mba. ” Nara mengucapkan kalimat yang sama. Rasanya Nara menyesal tidak ikut menjenguk bapak nya.
Sore pun tiba, ambulan yang membawa bapak Nara sudah sampai di rumah Nara. Nara menangis lagi setelah melihat ibu nya yang turun dari mobil yang membawa jasad bapaknya, tidak tega melihat ibunya yang menangis lemah.
“Dari kejadian ini saya belajar bahwa kita akan mengalami yang
namanya kematian. Dari tanah kembali ke tanah”

Leave a Reply