Buku Harapan – Wanda Amalia Ramadhani

Sinar matahari pagi menyapa, mengawali kegiatan hari ini, awal mula harapan-harapan baru muncul. Namun, masih bolehkah aku memiliki harapan? Memiliki cita-cita?

Asara berada di aula untuk menghadiri acara bincang-bincang di sekolahnya, tentu saja ini bukan atas dasar kemauannya, tapi hasil paksaan temannya, Hanna.

Acara ini dimulai dengan sambutan dari pembawa acara, “Selamat datang di bincang-bincang santai bersama pembicara hebat, dengan tema Harapan yang Masih Ada!”

Walau terpaksa mendatangi acara ini, Asara tetap mendengarkan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara, “buku ini saya namakan buku harapan, isinya harapan-harapan yang saya miliki, buku ini tebal, karena harapan itu banyak dan terus menerus bertambah. Harapan itu bukan hanya keinginan-keinginan besar, keinginan kecil seperti berharap masih bisa memakan bubur ayam pun, itu harapan. Setiap kali saya punya harapan, saya langsung tulis di buku ini, ketika harapan tersebut tercapai, tulisannya akan saya ceklis sebagai tanda sudah saya capai. Buku harapan ini siapapun boleh punya.”

“Jangan takut untuk membuat harapan, semuanya berhak punya harapan, berhak punya cita-cita. Jika ada harapan yang tidak tercapai, tandanya akan lahir harapan-harapan baru yang masih bisa dikejar, diperjuangkan. Tenang saja, asa itu masih ada dan akan terus ada.”

Bel istirahat berbunyi, memanggil siswa dan siswi untuk memasuki kantin dan mendapatkan makan siang mereka. Kantin siang ini begitu ramai, untungnya Asara dan Hanna sudah mendapat tempat untuk mereka makan di sana.

“Han, di mading yang kamu lihat kemarin, siapa aja siswa-siswi berprestasi bulan ini?”

Hanna memicingkan matanya, menatap Asara serius. “Tumben banget kamu peduli hal kayak gini? Biasanya kata andalanmu kan, buat apa kayak gitu, gak penting. Beneran kayak orang yang gak punya harapan.”

“Ya tapi, seneng sih aku kamu mulai peduli hal-hal kayak gini, kayaknya acara tadi membuahkan hasil. Terus itu lho yang ada di mading Kak Risa, Kak Diana, sama Kak Reza,” timpal Hanna.

Setelah kembali dari sekolah, Asara mengambil buku kosong di lemarinya, menjadikannya buku harapan dan menuliskan harapan pertamanya. Buku harapan ini ada dengan harapan dapat selalu tumbuh, seiring berjalannya waktu.

Harapan Asara

ada namaku di mading siswa-siswi berprestasi bulanan bareng sama Kak Risa, Kak Diana, dan Kak Reza.

Enam bulan berlalu sejak Asara kembali berani membuat harapan. Hari ini, harapan itu kian bertambah seiring banyaknya harapan yang sudah dicapainya.

“Asara! Sini buruan!” panggil Hanna melambai-lambaikan tangannya menunjuk mading yang sudah banyak ditunggu-tunggu, termasuk Asara.

Asara menatap mading, di sana terdapat namanya sebagai siswa-siswi berprestasi bulan ini, Asara Maura. Namanya bersanding dengan nama-nama lain seperti harapan pertamanya di buku harapan.

“Keren kamu, Sa! Kayak yang aku sering bilang kan, kamu bisa, kamu masih punya harapan, Sa. Dan sekarang kamu berhasil, aku bangga!” Hanna berkata sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

Asara menandai harapannya di buku harapan, berarti bahwa harapan itu telah tercapai. Ia mengusap lembar buku tersebut membaca harapan-harapan yang ada di sana. Asara tersenyum bangga akan dirinya sendiri yang sudah berani melawan rasa takutnya untuk memiliki harapan.

Terima kasih karena sudah berani berharap, semoga harapan-harapan tersebut menjadi alasanmu untuk tetap bersemangat menjalani hari-hari di kehidupanmu. Kamu, masih dan akan selalu berhak memiliki harapan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *