Namaku Khayza Nadzifa biasa dipanggil Ayza, wanita berparas cantik nan anggun namun memiliki watak yang keras, aku lahir dari keluarga yang selalu menuntutku untuk bisa semuanya.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara, adik pertamaku bernama Khanza Kinara, dan adik keduaku bernama Khaizan Vareza.
Sejak aku kecil aku jarang mendapatkan keadilan di keluargaku, bundaku yang selalu condong ke kedua adikku. Jangan tanyakan ayahku, sejak aku kecil aku belum pernah bertemu sosok beliau, bahkan mendengar suaranya pun aku belum pernah. Saat usiaku genap sepuluh tahun aku tinggal bersama nenek dan kakekku. Bundaku sudah memiliki keluarga baru mungkin bundaku sudah bahagia tanpa adanya aku.
Minggu Pagi itu mentari bersinar cerah menyinari kamar Ayza, ia terbangun bukan karena sinar matahari tetapi ada suara bentakan dari luar kamar Ayza
“Ayza bangun, bersihin rumah sekarang, atau mau nenek siram” yaa, nenekku sangat tidak suka jika aku tinggal bersamanya, nenekku bilang kalau aku hanya beban dikehidupan mereka.
“Iya nek, sebentar Ayza mandi dulu” dengan langkah yang setengah sadar, kaki Ayza melangkah menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi Ayza langsung sigap mengambil alat bebersih rumah, sedangkan nenek Ayza hanya duduk manis melihat Ayza yang telaten membersihkan setiap sudut rumah.
Dari pagi hingga menjelang sore yang Ayza lakukan hanya bersih-bersih rumah, tak terasa waktu sudah menjelang malam, Ayza harus tidur cepat karena besok Ayza harus pergi ke sekolah.
Hari ini hari Senin, Ayza harus berangkat sekolah lebih awal karena jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh, nenek dan kakek Ayza sangat enggan mengantar Ayza Sekolah, bahkan uang saku Ayza hanya lima ribu untuk seminggu. Ayza harus memutar otak untuk jajan sehari-harinya.
“Ayza berangkat sekolah dulu ya nek, kek” ucap Ayza sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman kepada nenek dan kakeknya.
Nenek dan kakek Ayza tidak membalas perkataan Ayza, Ayza segera berangkat menuju sekolah. Sesampai disekolah Ayza melihat banyak teman sebayanya yang di antar oleh ayah dan ibunya dan sesekali bayak yang mencium anaknya sebagai ucapan pamit. Ayza yang melihat itu hanya bisa berdiam dan memikirkan keadaan dirinya, matanya memanas dan bulir bening mengalir di kelopak matanya.
“Hai Ayza kamu kenapa nangis” zhyera menegur Ayza yang sedang menyendiri dan mengeluarkan air mata
“Gimana ya rasanya disayang, dipeluk, dicium sama orangtua, aku belum pernah ngerasain itu semua” sejak Ayza lahir ia belum pernah mendapat kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya
Zhyera yang mendengar itu langsung memeluk erat tubuh Ayza.
Bel sekolah sudah berbunyi, Ayza dan teman-temannya langsung bergegas menuju kelas mereka.
Saat bel istirahat berbunyi hanya ada Ayza dikelas, teman-teman Ayza pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka, perut Ayza sudah bunyi sedari tadi tetapi Ayza tidak punya uang untuk membeli makanan, uang saku Ayza ditabung untuk modal jualan Ayza, ya Ayza harus berjualan untuk mendapatkan uang lebih.
Bel pulang berbunyi, Ayza pulang seorang diri, teman-teman lainnya dijemput oleh orang tuanya masing- masing. Lagi-lagi Ayza melihat teman-temannya dijemput oleh orang tuanya. Ayza juga mau di perlakukan sama seperti teman-teman Ayza.
Sepanjang perjalanan mata Ayza tidak berhenti melihat orang-orang berlalu lalang. Sesampai dirumah nenek Ayza sudah memerintahkan untuk bersih-bersih rumah, sementara Ayza baru membaringkan tubuhnya sebentar
“AYZAAA BERSIH-BERSIH RUMAH JANGAN TIDURAN TERUS. JANGAN MAU ENAKNYA DOANG KAMU, AYZA” Ayza yang mendengar itu langsung mengambil alat-alat kebersihan rumah, padahal tubuh Ayza masih lelah tetapi ia harus mematuhi perintah neneknya jika tidak Ayza tidak mendapatkan uang saku dari neneknya.
Ayza dengan telaten membersihkan rumah di setiap sudutnya, setelahnya Ayza bergegas mandi
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ayza harus tidur agar besok tidak kesiangan
Rutinitas pagi Ayza yaitu sekolah, sesudah pamitan dengan nenek dan kakeknya Ayza langsung berangkat sekolah.
Ayza melewati taman disana banyak orang yang sedang berolahraga bahkan ada yang sedang bersantai, mata Ayza tertuju pada wanita yang berumur 35 tahun itu, wanita memiliki paras cantik yang mirip dengan Ayza. Ya itu Namira ibunda dari Ayza, Namira sedang bermain dengan kedua adik Ayza. Ayza memanggil bundanya dengan penuh semangat, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan bunda dan kedua adiknya itu.
“BUNDAAA INI AYZA, AYZA KANGEN BANGET SAMA BUNDA” Ayza berlari menghampiri bundanya dan memeluknya,
“Apaan sih Ayza gak usah bikin malu, bunda gak mau temen-temen bunda tau kalo kamu anak bunda” Ayza yang mendengar itu hatinya teriris, seseorang yang ia rindukan sejak lama ternyata menyakiti hatinya.
“Bunda, Ayza kangen banget sama bunda, bunda sudah tidak pernah main kerumah nenek. Bunda sudah lupa sama Ayza, ya. Ayza pengen peluk bunda yang lama, Ayza pengen ceritain keseharian Ayza”
“Sudah deh Ayza, kamu pergi sana, nanti banyak yang lihat kamu”
“Ya sudah, Ayza pamit berangkat sekolah dulu ya, bun” sambil mengulurkan tangannya, bundanya yang melihat itu memilih untuk mengabaikan dan meninggalkan Ayza.
Sepanjang jalan Ayza terus memikirkan dimana letak kesalahan Ayza sampai bundanya sebenci itu dengan dia.
Sesampai disekolah Ayza melakukan aktivitas seperi biasa, namun bedanya pinggang Ayza sangat sakit untuk berdiri pun kesusahan.
Saat bel pulang sekolah, Ayza memaksa untuk tetap pulang jalan kaki, padahal pinggang Ayza sangat sakit tidak tertahan.
“Pinggang Ayza sakit banget, Ayza gak kuat” akhirnya Ayza tak sadarkan diri di taman yang ia lewati tadi
Namira yang sedang berolahraga melihat Ayza yang sudah tidak sadarkan diri
“Astaghfirullah, Ayza kamu kenapa nak” tak pikir panjang, Namira segera membawa Ayza kerumah sakit terdekat. Ayza diperiksa oleh dokter sedangkan Namira menunggu di luar ruangan.
“Ayza mengalami gejala gagal ginjal” dokter menjelaskan kepada Namira, Namira yang mendengar itu sangat terkejut. Tak lama dari itu Ayza sadar.
“Bunda kok disini, bukannya bunda malu kalau Ayza ini anak bunda”
“Ayza, maafin bunda ya nak, bunda menyesal sekali berkata seperti itu ke Ayza, bunda jahat banget ya sayang”
“Bun, Ayza juga mau kaya teman-teman lainnya, Ayza juga mau dipeluk, dicium, dimanja sama orangtua Ayza, apa Ayza ga berhak dapat itu semua? Ayza ga pantes ya dapat itu semua? Bun kasih tahu Ayza salah Ayza dimana sampai Ayza tidak mendapat keadilan dikehidupan Ayza”
Namira yang mendengar itu meneteskan air mata, dan menganggap dirinya adalah orang tua yang gagal.
“Ayza pantes kok dapat kasih sayang dari bunda tetapi bundanya saja yang tidak bersyukur diberi Ayza dikehidupan bunda, bunda minta maaf ya sayang sudah membuat Ayza sakit hati atas perkataan bunda tadi pagi, mulai hari ini Ayza tinggal sama bunda yaa nak”
“Bun, kok pinggang Ayza sakit banget yaa”
“Ayza maafin bunda ya, bunda gak bisa jagain Ayza, Ayza mengalami gejala gagal ginjal, maafin bunda ya nak” mendengar itu Ayza menangis.
Pengobatan Ayza terus berlanjut hingga akhirnya penyakit Ayza sembuh.
Sejak saat itu Ayza dan keluarganya hidup bersama.

Leave a Reply