Di sebuah desa yang damai, hiduplah seorang gadis bernama Nufa yang sangat dekat dengan kakeknya, Pak Darma. Ia adalah sosok yang paling dekat di hatinya. Setiap hari, Nufa menghabiskan waktu bersama kakeknya, mendengarkan cerita-cerita masa lalu dan belajar banyak hal darinya.
Pak Darma adalah sosok yang penuh kasih sayang dan cinta. Dengan kelembutan dan kasih sayangnya, ia mengajarkan nilai-nilai kehidupan, seperti keberanian dan kemandirian.
Suatu hari, Nufa melihat kakeknya terbaring lemah di tempat tidur. Nufa merasa cemas dan khawatir, tetapi saat melihat Nufa, Kakek tersenyum. “Jangan khawatir, Nak. Kakek baik-baik saja,” Ucapnya. Namun, dalam hati Nufa, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Hari-hari berlalu, keadaan kakek semakin memburuk. Suatu malam, Nufa terbangun mendengar suara aneh. Ia segera berlari ke kamar kakeknya dan menemukan kakek terkulai, napas nya tersenggal-senggal. Dengan panik Nufa memanggil ibunya, dan mereka segera membawanya ke rumah sakit.
Namun, di rumah sakit, dokter memberi tahu bahwa kakek tidak dapat diselamatkan. Nufa merasa hancur dan berpikir dunia seolah berhenti. Semua kenangan indah bersama kakek berputar dalam pikirannya, dan air mata tak bisa di bendung. Ia merasa kehilangan sosok yang selalu memberinya rasa aman dan kasih sayang.
Hari pemakaman tiba, Nufa berdiri di samping liang kubur kakek, hati dipenuhi kesedihan. Dia teringat semua momen berharga bersama kakek, senyuman, pelukan hangat, dan cerita yang tak pernah habis.
Beberapa minggu setelah kepergian kakek, Nufa merasa kesepian. Namun, ia menemukan buku catatan milik kakek di lemari. Di dalamnya, terdapat berbagai cerita yang di tulis kakek tentang kehidupan. Setiap halaman membawanya kembali ke kenangan indah bersama kakek.
Nufa mulai menulis sendiri, terinspirasi oleh kakek. Ia mencurahkan perasaan dan kenangan ke dalam kertas, menjadikan setiap tulisan sebagai cara untuk mengenang sosok yang di cintainya. Dalam setiap kata, Nufa merasa Kakek masih ada bersamanya, memberikan nasihat dan semangat.
Akhirnya, Nufa menyadari bahwa kepergian bukanlah akhir. Meskipun kakek sudah pergi, cinta dan ajarannya akan selalu hidup dalam diri Nufa. Meski fisiknya tak lagi ada, jejaknya akan selalu hidup dalam setiap langkahku. Setiap kenangan bersamanya mengajarkan arti cinta yang abadi dan nilai-nilai yang akan kupegang sepanjang hidup.

Leave a Reply