“Laut itu indah, namun dapat menenggelamkan siapapun yang ada di beradanya.”
Hai semua! Perkenalkan aku Nayaka Hael Sabiru, orang-orang biasa memanggilku biru atau ruru, aku berusia 16 tahun, dan tahu tidak? Aku sudah putus sekolah loh! Karena ada sesuatu yang menimpa padaku. Penasaran? Baca sampai selesai ya!!
~ ~ ~
[Yogyakarta, 19 februari 2022]
Suara deburan ombak terdengar nyaring. Aroma ciri khas air laut tercium begitu kuat. Embusan udara dingin menusuk tulang. Kicauan burung-burung yang terbang seiringan, seakan memberi pujian atas indahnya garis pantai.
Dan gelapnya langit, seperti tanda akan turun hujan.
Semuanya lebih baik jika di pantai, bahkan jika hujan sekalipun.
“Hey isha, apa kau ingin menetap di sini sampai malam tiba?” tanya Sabiru kepada ‘temannya’ itu.
Yang dipanggil pun menoleh, “Terserah kau saja, selagi pikiran mu sudah tidak kacau lagi aku akan menyetujui nya.” jawab nya.
“Oke.”
Astra Isha sanjaya, adalah satu-satunya orang yang paling Sabiru bisa percaya, mereka sudah bersama selama 2 tahun, telah melalui rintangan hidup bersama, bahkan mereka juga punya cerita masing-masing.
Isha adalah gadis yang pendiam, jarang berbicara, cuek, tapi ia sangat penyayang, dia seperti itu karena gengsi.
Setelah lamanya mereka berdua diam, isha pun memulai percakapan.
“Hm ruru, aku penasaran deh.” ucapnya penasaran sambil meminum sebotol teh.
“iya? Kenapa?”
“Kenapa kau saat itu memutuskan untuk putus sekolah? Memangnya kau ada masalah apa di sana?” tanya isha lagi, sambil menatap ke arah Sabiru.
Sabiru yang awalnya tersenyum kini senyuman itu telah pudar, ia kembali mengingat betapa buruknya masa-masa sekolah menengah pertama(SMP) nya itu.
Ia menatap kosong ke tengah lautan, melamun cukup lama, lalu mulai membuka suaranya.
“Jadi begini..”
~ ~ ~
Flashback on.
[Bandung, 28 November 2018]
Saat itu, hujan turun dengan lebatnya ke permukaan bumi, disertai dengan angin kencang dan gemuruh petir dari langit, aku berjalan di trotoar jalan, dengan perasaan yang campur aduk, sedih, marah, kecewa, semua itu ada di-diriku.
Mengetahui bahwa temanku satu-satunya, yang paling aku percayai selama ini, telah menghianatiku.
Semenjak aku duduk dibangku SMP, aku selalu dibully oleh teman kelasku, tapi ada seseorang yang dapat menenangkan ku, kita sebut saja orang itu Kala.
Kala, dia adalah temanku satu-satunya di SMP, saat aku dibully, ia akan membela ku, melontarkan kata-kata manis kepadaku, serta selalu siap menemaniku setiap saat.
Tapi itu hanya sampai di situ, saat aku mengetahui bahwa Kala menemaniku karna hanya sebuah taruhan, perasaan marah, sedih, kecewa, ada di-diriku. Aku berlari menuju toilet sekolah yang ada di sana, sesampainya aku disana, aku menangis sepuas-puasnya sampai aku merasa lega.
Saat sekolah sudah selesai dan waktunya semua siswa-siswi diperbolehkan untuk pulang. Namun sialnya, hujan tiba-tiba turun, aku berniat untuk menunggu hujan reda di halaman sekolah, tetapi ada teman kelasku yang mungkin akan membullyku lagi, karna tidak tahan, aku langsung menerobos hujan, tidak peduli pakaian atau tas ku akan basah, aku hanya ingin tenang.
Saat sampai di rumah, ibuku menyambut ku di depan pintu rumahku. Berusaha untuk tidak memecahkan tangisku, tapi sayangnya aku tidak kuat menahan itu, aku terduduk di depan ibuku sambil menangis dengan sesak di-dadaku.
“Astaga anakku, ada apa denganmu?” tanya ibuku dengan wajah khawatir nya.
Ia serentak memeluk ku sambil menenangkan ku.
“Ceritakan saja semuanya, ibu akan mendengarkan.” ucap ibuku dengan lembut.
Saat dirasa agak tenang, aku mulai membuka suara.
“Ibu.. Bolehkah aku putus sekolah? Aku sudah tidak kuat terus-terusan diperlakukan buruk.” ucapku dengan nada yang bergemetar.
“Jika itu mau mu anakku, Ibu akan menuruti semua kemauan mu nak, besok akan ibu urus ya.” Jawabnya dengan tulus.
“Iya bu.. Terima kasih, biru sayang ibu.”
“Ibu juga sayang biru kok, udah ya jangan nangis lagi.”
~ ~ ~
Flashback off
“Oh..Seperti itu ya..”, ujar Isha.
“Ya..”, Jawab Sabiru
“…”
Setelah lamanya mereka berdua hening, Sabiru mulai melanjutkan percakapan lagi.
“Hey isha.”, panggil nya.
“hm? Iya?”, yang dipanggil oun menoleh.
“janji ya, kita bakal bersama sampai maut menjemput kita?” ujar Sabiru.
Saat mendengarnya, Isha terkekeh, “iya, janji.”, sambungnya.
~ ~ ~
[Yogyakarta, 20 November 2024]
Hembusan angin menusuk kulit hingga tulang, matahari yang hampir tenggelam karena waktu sudah menjelang malam.
“hey isha, sudah dua tahun semenjak kejadian itu, yang dulunya aku sempat depresi karna itu, kini aku sudah kembali ceria seperti dulu, keren bukan?” ujar Sabiru.
Namun, tidak ada jawaban dari lawan bicara, kini yang ada di hadapan Sabiru hanyalah batu nisan yang bertuliskan nama dari teman tersayang, yaitu Isha.
Berusaha tidak membuang air mata kesekian kalinya, “andai kau tidak menjemputku dikala hujan deras saat itu, pasti kau tidak akan kecelakaan dan saat masih berada disisi ku, kan?”
“takdir hanya Tuhan yang tau, dan banyak orang bilang, manusia yang sungguh baik hatinya selalu dijemput Tuhan terlebih dahulu, karena Tuhan sangat menyayangi manusia seperti itu.”
Tak sanggup menahan tangisnya, kini tangisan itu pecah, membasahi tanah yang menguburi teman satu-satunya.
“hey isha, aku izin pulang ya? Udah hampir malam soalnya.”
Hanya ada keheningan, tak ada jawaban di sana.
“baiklah aku mengerti. Sampai jumpa esok Isha!”
Ia meninggalkan makam sang teman dengan penuh ikhlas, ia berjanji akan selalu menemuinya setiap saat.
Mungkin dikehidupan lain, kita bisa bahagia tanpa adanya masalah yang menimpa kita, dan aku harap, kita bisa mengunjungi tempat favorit kita, pantai.
“Hadirmu sangat berharga
Kuingin engkau tahu
Aku sayang kamu.”– Lagu adaptasi, ciptaan Tulus.

Leave a Reply