Bab 1 Masih Terbayang – bayang
Apakah kamu pernah merasakan jatuh cinta yang begitu hebat tetapi hanya ada di dalam mimpi? Tentu saja itu akan pernah nyata, Arina perempuan yang penuh percaya diri bahwa dirinya dapat disukai oleh banyak para lelaki, namu kenyataannya tidak pernah sesuai dangan realita yang dipikirkannya.
Arina sangat mengagumi peria yang berada di dalam mimpinya.
Bruk!!!
Arina terjatuh dari tempat tidurnya setelah ia bermimpi lamanya dan tak kunjung bangun.
Namun saat arina memulai membuka matanya, sudah terlihat didepannya wajah melinda yang begitu judes dan ia kesal dengan tingkah melinda yang membangunkannya.
“Bagaimana tidurmu tuan putri? Sudah nyenyak bukan? Dengan nada yang cukup tegas.
Arina hanya bisa tersenyum dan menjawab dari perkataan temennya itu,
“maaf, aku benar – benar masih mengantuk.”
Namun seperti biasanya, melinda menjahilkan arina dengan menggulingkan tubuhnya karena melinda merasa risih melihat arina yang masih terus tertidur dikamatnya.
Arina pun terbangun dan melinda menyuruh arina untuk mencari pacar.
“Kamu cari pacar gih, yang bisa buat kamu bersender untuk tidur! Lagian kamu kan punya rumah? Ngapain masih tidur di kamar aku terus?” gerutuknya sambil membersihkan tempat tidur yang telah ditempati oleh aluna, sedangkan arina langsung berdiri dan menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.
“Kamu kan tahu sendiri bagaimana keluargaku?” ucap arina dengan nada yang sangat lesu.
Melinda langsung menghentikan segala aktifitasnya dalam membersihkan tempat tidurnya, meskipun melinda sangat tidak tega terhadap arina dan selali teringat pada arina yang memiliki keluarga broken home, tentu saja arina tida akan pernah betah berada di dalam rumahnya.
Padahal jika dilihat dari segi fisik ruangan rumah arina, tentulah rumah arina yang sangat layang untuk ditempati, berbanding dengan rumah melinda yang sederhana namun menjadi tempat kenyamanan bagi arina.
“Aku bosan melihat mereka selalu bertengkar, mereka tah ada waktu untuk ku.”
Melinda menghela nafasnya sebelum ia berfikir dan mengucapkannya,”Kamu sudah bukan anak kecil lagi arina.”
Dengan perkataan melinda yang seperti itu membuat aruna terdiam sejenak dan melinda menjadi merasa bersalah, melinda pun langsung merangkul arina, “Maaf perkataanku yang tadi ya arina.”
Arina menatap dalam – dalam tatapan melinda yang penuh makna dan tersemyum, “Iya santai aja. Akub berangkat ke kampus dulu ya.” Lalu arina langsung bangun dan melinda masuk kembali kedalam rumahnya untuk bersiap – siap mandi dan bergegas berangkat ke kampus.
Dalam pikiran arina ia selalu berfikir jika ada suatu keajaiban untuknya, ia sangan ingin datang kembali kedalam mimpinya danbertemu kembali dengan cowo yang berada di dalam mimpinya itu, setelah arina mengingat – ingat kembali lagi nama cowo yang berada di mimpinya itu, tetapi arina belum mendapatkan jawaban sama sekali tentang nama cowo itu. Arina sama sekali tidak ingat nama cowo yang berada di dalam mimpinya itu.
“Tunggu sampai malam nanti, aku akan mengingat namanya,” gumamnya dengan pelan.
Saat tiba di kampusnya, arina sama sekali tidak fokus dengan pelajarannya, meskipun salah satu dosen yang menyukai arina terus memperhatikannya. Terlihat jelas dari sikap dan tinggah laku dari cikal yang perhatiaan pada aluna.
“Arina bisakah kamu memperhatikan mata kuliah ini?” ucap dengan nada lembut, sontak membuat tersadar bawa dirinya sudah dari tadi terdiam dan tak memperhatikan dengan apa yang pak cikal terangkan.
“Kamu beneran nggak mau sama pak cikal rin? Kalau nggak, buat aku saja! Dia punya mobil loh, mandiri dan berduit juga,” bisik melinda pelan, sementara arina tak begitu menghuraukannya.
“Maaf pak,” kaliamat itu saja yang hanya bisa di keluarkan dari mulut arina.
Bahkan setiap pak cikal menerangkat tentang pelajaran assesment, pak cikal tak ada hentinya untuk memperhatikan arina,dan arina pun mulai tak lagi melamun. Arina mulai memperhatikan materi yang sedang di jelaskan oleh pak cikal.
Arina kembali menatap bukunya, ia melihat di lembar halaman berikutnya yang tentu saja belum waktunya untuk mahasiswa yang lain membalikan halamannya tersebut.
“Ko kaya ga asing ya?” pikir arina.
Entah apa yang membuat arina menjadi penasaran, namun baginya pelajaran hanyalah sebuah pelajaran saja yang sama sekali tidak begitu ia minati di hari itu. Arina melupakan dengan cepat. Sore berganti malam. Arina menunggu waktunya tertidur pulas, kali ini orang tuanya sedang tidak pulang jadi sehingga tidak ada pertengkaran yang terjadi, hal itu membuat arina sedikit lebih lega, setidaknya arina tak mendengar sesuatu benda yang pecah dari ruangan rumahnya.
Arina tahu orang tuanya yang jarang sekali pulang membuat dirinya untuk tak lagi menunggu kedatangan kedua orang tuanya, bahkan arina selalu berharap bahwa mereka tak akan pulang karena arina arina yang sangat bosan mendengar pertengkaran yang sungguh hebat.
“Kali ini tolonglah tuhan, aku ingin bermimpi indah lagi, bertemu dengan cowok itu lagi,” gumamnya dengan penuh harapan.
Tentu saja arina sangat berharap bisa bermimpi bertemu dengan peria yang kemarin malam ia temui di dalam mimpinya, dan kali ini arina tak ingin melewatkan untuk menanyakan nama cowok yang berada dalam mimpinya itu.

Leave a Reply