Sorrowful Reunion – Adinda Putri Yanuarisa Tanjung

Matahari mulai bersinar terang, udara yang sejuk menerpa wajahnya. Hari ini adalah hari yang sibuk untuk mahasiswa semester akhir seperti dirinya.

Ia menyesap kopinya yang mulai mendingin dengan matanya yang selalu berfokus pada laptopnya.

Saat ia mulai tenggelam pada pikirannya sendiri suara kursi yang di geser membuyarkan fokusnya, “Permisi, apa saya boleh duduk di sini?” ia tersentak kaget saat mendengar suara pria yang sangat familiar di kuping nya, dia menoleh, namun aneh dia yakin dia benar benar mengenal pria asing yang sedang berdiri di depannya sekarang, “Ya, silahkan” ia menjawab pertanyaannya.

Sang pria pun langsung duduk dan menyesap kopinya yang baru saja ia pesan, “Bagaimana kabar mu?” pria itu bertanya pada wanita di depan nya yang terlihat asik dengan laptopnya, pria itu pun yakin bahwa dia benar benar mengenal wanita asing yang duduk di depannya saat ini. “Baik” sang wanita menjawab dengan singkat.

Sang pria tersenyum tipis saat mendengar jawabannya, “Biasanya kamu tidak akan menjawab se singkat itu, kamu dulu sangat banyak bicara, ada apa dengan mu?” ia menatap fokus wanita yang berada duduk di depannya tersebut. Sang wanita tidak melepaskan pandangan dari laptopnya dan ia menjawab, “Aku sibuk, lagi pula kamu ingin aku menjawab apa?” mendengar itu sang pria tertawa kecil, “Baiklah aku tidak akan menggangu, tapi jika kamu ingin menceritakan sesuatu padaku ceritakan saja” ucap sang pria lalu menyesap kopinya.

Mendengar itu sang wanita hanya diam dan kembali fokus ke laptopnya, sejujurnya dia sadar bahwa sang pria hanya diam memperhatikan sejak tadi.

Kecanggungan yang menyesakan ini bertahan selama beberapa menit sebelum sang pria mulai angkat bicara, “Sudah lama tidak bertemu kamu masih cantik ya” mendengar itu sang wanita langsung mengalihkan topik pembicaraan, “Bagaimana tugas akhir mu? kamu selalu terlihat santai” mendengar itu dari sang wanita, sang pria tertawa kecil dan ia menjawab, “Entahlah, aku mulai kehilangan semangat ku, dulu biasanya kita selalu mengerjakan tugas kita bersama di kafe ini, tapi sekarang tidak” sang wanita bingung dengan jawabannya, “Lalu? Apa hubungannya?” sang pria tertawa kecil mendengar nya, “Aku tidak semangat karna tidak ada kamu” mendengar itu sang wanita menjawab, “Dulu saat kita bersama kamu juga tidak mengerjakan tugas kuliah mu, kamu selalu saja pemalas, tidak berubah” sang pria tersenyum mendengar jawaban sang wanita, nampaknya sang wanita tidak melupakan kebiasaan buruknya itu, “Aku mengerjakan nya kok, sedikit” sang pria menjawab nya dengan bercanda, sepertinya dia rindu omelan dari sang wanita yang sudah lama tidak ia dengar.

“Kamu tidak berubah ya, kamu masih pemalas. Apa kamu masih suka es krim rasa “pasta gigi” itu?” kali ini sang wanita mulai menatap sang pria dan tersenyum tipis padanya. Mendengar itu sang pria tertawa kecil dan ia membela dirinya, “Hey mint choco bukan pasta gigi, se tidaknya selera ku unik tidak seperti seleramu yang pasaran itu” sang wanita tertawa kecil saat mendengar nya ia pun membela dirinya, “Vanilla itu enak makanya banyak yang suka, itu hanya lidah mu saja yang punya selera aneh” sang pria hanya tertawa kecil, ia diam untuk sementara waktu dan menghela nafasnya sebelum akhirnya ia membuka mulutnya kembali, “Apa yang kamu lakukan setelah semuanya selesai?” sang wanita kini menutup laptopnya, sepertinya ia tertarik oleh percakapan di reuni yang tak terduga ini.

Sang wanita melihat ke arah sang pria dan mengangkat alisnya, “maksud mu?” sang pria dengan cepat menjawab, “hubungan kita”. Mendengar itu sang wanita menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaannya, “Jujur saja setelah itu semua, rasanya pagi jadi yang paling berat untuk ku. Kenyataan bahwa semuanya telah berbeda” sang wanita menatap kedua bola mata sang pria, saat itu juga sang pria merasakan berat di dadanya namun juga merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan terhadap wanita lain. “Kenyataan bahwa peranku dalam hidup mu selesai itu cukup membuatku terpukul” sang wanita menatap pria itu dan tersenyum hangat, “Namun aku sadar hidup harus tetap berjalan, dan aku harus melepaskanmu” mendengar itu sang pria terdiam, sungguh ia juga merasakan hal yang sama apa yang ia rasakan, jika waktu bisa di putar kembali ia ingin untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala, masa-masa dimana semuanya baik baik saja, masa-masa dimana mereka menikmati waktu bersama. Namun sekarang tinggal kenangan yang tersisa.

“Terkadang aku masih memikirkanmu. Aku berpikir haruskah aku menghubungimu? ada banyak waktu dimana aku berpikir seperti itu” sang pria mengehela nafas berat sebelum melanjutkan kalimatnya, “Tapi aku tahu ini semua sudah berakhir” mendengar kalimat yang baru saja sang pria ucapkan, sang wanita sedikit terkejut. Sang wanita berpikir jika mereka masih bisa memperbaiki hubungan mereka namun bagaikan di ajak melayang tinggi dan di hempaskan kembali ke tanah, harapan sang wanita seketika pupus saat sang pria kembali membuka mulutnya, “Tidak peduli berapa besar keinginan ku untuk kita kembali seperti dulu, tapi itu tidak akan bekerja lagi” sang pria menatap sang wanita dengan tatapan teduh, sungguh ia masih menyayangi wanita yang duduk di depannya ini namun ia merasa tidak mungkin dan sudah terlalu terlambat untuk mengembalikan semuanya seperti dulu.

Sang wanita terdiam untuk beberapa saat, ia memutar memori indah kenangan mereka berdua seperti film masa lalu yang telah selesai, “Benar, aku hanyalah masa lalu untukmu begitu pun dirimu”.

Mereka berdua terdiam sesaat, jujur saja tujuan awal sang pria menghampiri nya hayalah untuk bertegur sapa sebagai teman lama yang sudah lama tidak berjumpa, tapi ia tidak menyangka jika topik yang mereka bicarakan akan sejauh ini.

“Apakah kamu menyesali jalan yang kamu pilih bersamaku?” mendengar perkataan sang wanita, sang pria langsung menjawab tanpa ragu, “Tidak, kamu adalah pengalaman yang luar biasa. Aku tidak menyesalinya sama sekali” mendengar itu sang wanita tersenyum tipis, “Tapi seperti nya semesta tidak merestui kita berdua, tapi kita harus menjadi dewasa, kita tidak bisa memaksakan takdir” mendengar itu dari sang wanita, sang pria menghela nafasnya sebelum ia kembali membuka mulutnya, “Namun, apakah kita memang ditakdirkan seperti itu?” mendengar itu sang wanita hanya mengangkat bahunya “Entahlah, tapi aku percaya kepada rencana Tuhan”.

Benar, mereka tidak bisa memaksakan apa yang bukan takdir mereka, yang bisa mereka lakukan hanyalah menjadi dewasa dan menerima semuanya. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap yang bernyawa pasti berpisah dan saling melupa. Tetapi jam tetap berdetik, dan hidup tetap berjalan untuk meninggalkan kedua pasangan ini menjadi masa lalu.

Setelah beberapa saat sang pria larut dalam lamunan, ia Kembali membuka mulutnya, “Sepertinya percakapan kita sampai sini saja. Aku senang bisa bertemu kembali dengan mu, aku harap kau selalu bahagia, sampai jumpa” setelah mengucapkan itu sang pria tersenyum kepada sang wanita dan bangun dari kursinya untuk berjalan keluar dari kafe. Sang wanita melihat kearah punggung sang pria yang semakin lama semakin menjauh, entah kenapa ia merasakannya lagi, rasa sakit yang sudah tidak lama ia rasakan,dan tidak ingin ia rasakan lagi, rasa sakit dari kehilangan dan perpisahan. Sang wanita melihat ke luar jendela kafe. Mengapa hujan tiba-tiba turun? Mengapa pipinya menjadi basah?. Ia tidak mengerti mengapa ia menangis, bukankah ia sudah mengalami ini namun mengapa ia menangis?, dengan cepat ia menghapus air matanya, ia meyakinkan dirinya untuk tidak kembali terpaku pada masa lalu, ia yakin pasti ia akan mendapatkan yang selamanya bukan sementara, hanya waktu yang bisa menentukan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *