Tanteku pernah bercerita tentang kutipan dari sebuah buku yang dibacanya: berpamitan adalah sebuah hal yang paling aneh. Kita tidak akan pernah tahu kapan harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang, tapi terlalu bodoh untuk tidak mengucapkannya jika diberikan kesempatan. Aku rasa kutipan itu ada benarnya.
Ini adalah ceritaku tentang perpisahan dan kehilangan yang aku alami dengan dua sosok Ayah yang ada di dalam hidupku.
Selayaknya anak-anak, aku juga memiliki seorang Ayah kandung. Bedanya, saat kebanyakan Ayah lainnya bisa berada bersama mereka setiap hari, pertemuanku dengan Ayah hanya seminggu sekali. Situasi Ayah saat itu harus sambil bekerja di Jakarta. Setiap bertemu, Ayah selalu menggendong aku keluar rumah, naik motor berkeliling untuk mencari jajanan. Walau biasanya Ayah hanya menginap satu malam bersamaku, waktu yang kami habiskan bersama selalu terasa menyenangkan.
Sosok Ayah sangat peduli dengan kebutuhanku. Aku ingat saat aku sempat merasa iri dengan saudara sepupuku karena dia memiliki sebuah tablet untuk dipakai bermain. Ayah selalu menjadi penengah; dia akan membelikan aku tablet juga agar aku bisa bermain bersama sepupuku. Setelah dipikir lagi, sepertinya aku bukan iri pada tablet itu, tapi aku iri karena Ayahnya ada bersamanya setiap hari.
Ayah di mataku sangat terampil menggunakan aplikasi di handphone. Dia seringkali mencari trik di internet ketika menemukan kesulitan yang dia hadapi, baik tentang aplikasi yang error di handphone maupun kebutuhan rumah tangga, seperti mengganti saluran air. Dari sering melihatnya mengoperasikan handphone, aku jadi belajar bahwa jika aku menemukan kesulitan yang sama, aku akan melakukan apa yang dia lakukan. Hal ini memberikan inspirasi untuk menjadi YouTuber; bedanya, aku ingin bisa membagikan tips dan trik cara bermain game sehingga pemain pun bisa menaikkan level dan memaksimalkan skill-nya.
Namun, saat usiaku berumur sembilan tahun, aku harus berpisah dengan Ayah. Tapi aku tidak merasakan itu sebuah perpisahan karena aku masih memiliki sosok Eyang Kakung, kakekku yang bisa menjadi pengganti sosok Ayah. Selayaknya seorang Ayah, Eyang Kakung juga pernah mengajarkanku mengaji dan mengajakku salat di masjid. Aku pun jadi bisa lancar membaca Al-Qur’an, paham artinya, isi kandungannya, dan berusaha selalu salat lima waktu.
Tetapi pada saat Lebaran Hari Raya Idul Fitri tahun 2022, Eyang Kakung tidak bisa berdiri lagi; keadaannya semakin memburuk dan hanya tergeletak di atas tempat tidur. Aku pun sedih melihat kondisi Eyang Kakung saat itu. Sehari setelah Eyang Kakung merayakan ulang tahun yang ke-enam puluh lima, beliau pun tutup usia. Ketika seluruh keluarga sedang berkabung, Eyang Uti berkata, “Mari kita ikhlaskan Eyang Kakung. Beliau meninggal di hari Jumat, dan Eyang Uti pernah mendengar bahwa hari Jumat adalah hari baik karena pintu surga sedang dibuka, semoga Eyang Kakung bisa langsung masuk surga.” Mendengar perkataan itu, aku berusaha ikhlas menerima kenyataan. Walau sesungguhnya aku menangis, aku tidak perlu mengungkapkannya.
Setelah kepergian Eyang Kakung, aku sadari bahwa aku tidak pernah mengucapkan perpisahan kepada Eyang Kakung. Karena aku selalu berpikir kami akan terus bersama selamanya. Kemudian, seiring berjalannya waktu tanpa sosok Eyang Kakung, aku pun tersadar bahwa sosok Ayah mulai terasa hilang. Kali ini, aku juga tidak ingin dipertemukan dengan perpisahan dan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Hal itu membuatku rindu kehadiran Ayah.
Aku tersadar bahwa sosok Ayah pun tidak ada, dan COVID-19 sempat melanda, membuat jarak di antara aku dan Ayah menjadi lebih jauh. Sedikit demi sedikit, wajah Ayahku di ingatanku mulai memudar. Ingin rasanya aku mengunjungi Ayah, tapi sepertinya waktu belum mengizinkan.
Lima tahun lamanya aku menunggu bertemu dengan Ayah, datanglah sebuah kesempatan agar aku bisa bertemu dengannya. Rasanya sudah lama kami tidak bertemu, sehingga aku khawatir Ayah tidak ingat mukaku lagi. Pada tanggal 12 Oktober 2024, ketika kesempatan itu benar-benar datang, kekhawatiranku tentang Ayah yang akan lupa dengan wajahku ternyata salah. Saat bertemu, Ayah langsung mengenaliku dan mengatakan bahwa aku sudah tumbuh, bukan anak kecil lagi.
Aku sadari bahwa Ayah tidak banyak berubah; dia masih seperti yang dulu. Di pertemuan itu, dia mengajakku berkeliling, membelikan aku jajanan, dan kami menghabiskan waktu bermain PlayStation bersama. Kami pun ngobrol tentang apa pun. Ayah pun berjanji pada pertemuan kami selanjutnya dia akan memberikan aku hadiah karena aku rajin sekolah dan tidak pernah bolos.
Pertemuan dengan Ayah memang singkat; bahkan kami tidak menghabiskan waktu dalam sehari, hanya tiga jam saja. Namun, aku merasakan tiga jam itu sangat membuatku bahagia, bisa kembali berkumpul dengan Ayah dan menyambung tali kasih yang selama ini aku kira sudah hilang.
Setelah bertemu dengan Ayah, muncul sebuah keinginan. Aku akan berusaha bersikap baik kepada ibuku dan Ayahku. Aku juga tidak ingin menyakiti hati atau perasaan mereka. Aku sadar bahwa saat aku beranjak remaja saat ini, aku ingin memberi hadiah kepada Ayah dan ibuku. Tapi untuk saat ini, aku baru bisa memberikan hadiah dengan ungkapan: terima kasih Ayah dan Ibu sudah merawatku dan menjagaku sampai saat ini. Namun, untuk sementara waktu, aku hanya bisa mengucapkannya kepada ibuku saja. Bukan karena Ayah jauh, tapi sesungguhnya aku malu berkata seperti itu kepada Ayahku. Aku ingin mengukapkannya saat kami berdua saja.
Aku kira perpisahan dan kehilangan selalu berujung pada kesedihan. Tapi rasanya belum tentu. Sesungguhnya, kita tidak bisa mengira apa yang akan dikehendaki oleh Allah SWT untuk masa depan. Kisahku ini bukan saja tentang perpisahan dan kehilangan sosok Ayah dan Eyang Kakung, tapi juga tentang pertemuan kembali setelah berpisah dengan sosok Ayah yang pernah menghilang untuk sementara waktu.

Leave a Reply