{"id":83,"date":"2024-10-29T06:41:47","date_gmt":"2024-10-29T06:41:47","guid":{"rendered":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=83"},"modified":"2024-10-29T06:41:47","modified_gmt":"2024-10-29T06:41:47","slug":"laksana-sebuah-simfoni-callysta-almaira-cahyani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=83","title":{"rendered":"Laksana Sebuah Simfoni &#8211; Callysta Almaira Cahyani"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKu aman ada bersamamu, selamanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSampai kita tua, sampai jadi debu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Sampai jadi debu, Banda Neira<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dikala sore itu, angin berhembus dengan kuat. Membuat dedaunan para pohon berjatuhan, mereka berdansa dengan mengikuti panduan sang angin. Aku berlutut dihadapannya, mengulurkan tangan kanan ku kepadanya. \u201cHaruskah kita mulai berdansa..?\u201d tanyaku sembari mengeluarkan senyuman yang terlukis di raut wajahku, \u201cTentu\u201d Jawabnya singkat dan menerima uluran tanganku. Kami berdansa di tepi pantai, membiarkan ombak \u2013 ombak kecil yang menabrak kedua kaki kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang matahari dikala senja itu menyinari wajahnya, tiap helaian rambutnya yang panjang dan berkilauan saling bertabrakan. Aku telah jatuh cinta lagi, betapa indahnya karya ciptaan tuhan yang satu ini. Ia berdansa denganku sembari tertawa dengan leluasa, senyumnya begitu menawan. Duhai kekasihku, tiap rintangan akan ku lewati untuk membuat cinta kita abadi. Akan ku buat wajahmu menjadi sejarah dalam museum, menjadikannya sebuah mahakarya yang sangat mengagumkan bagi seluruh makhluk hidup dalam kehidupan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami berbaring di rerumputan hijau taman rumah kami dikala malam itu, memandang ribuan bintang dan sinarnya bulan. Aku memandangi matanya yang berkilauan, melukiskan kembali ribuan bintang dan bulan itu. Ainur Adiratna, kekasihku yang tak kan menjadi tandingan untuk disandingkan dengan batu mineral yang mulia. Rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai, senyumnya yang begitu indah, lalu kulitnya yang berwarnakan cokelat manis, dan matanya yang melukiskan ribuan kosakata indah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku, Mahendra Aditama. Merupakan laki \u2013 laki yang beruntung untuk mendapatkan seorang pasangan hidup seperti Ainur, merupakan sebuah keajaiban dunia untuk bertemu dengannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat itu, kami bekerja diperusahaan yang sama dan divisi yang sama. Beberapa tahun kemudian aku ditunjuk untuk menjadi ketua divisi tersebut, saat itu sebelum rapat pertama ku akan dimulai aku melihat dia, ia sedang berbincang bersama teman \u2013 temannya. Aku terpesona, suara berisik yang sedari tadi ku dengar kini telah hilang. Aku terjebak, tak bisa berhenti memandangnya. \u201cPak?\u201d seseorang tiba \u2013 tiba menyadarkan ku dari dunia asmaraloka, \u201caduhh pak Mahendra, pagi \u2013 pagi sudah melamun saja nih haha.\u201d Celetuk nya lagi, Eka Raditya. Sahabatku sedari masa SMA, ia kini menjadi tangan kananku atau mungkin bisa dibilang partner. \u201cEh hahaha astaga, maaf ya semua. Eumm semuanya sudah masuk..?, bisa kita mulai ya berarti.\u201d Kataku sembari terkekeh mengingat hal konyol yang ku lakukan, aku pun segera memulai rapat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini rapat sudah berakhir dan aku pun merapihkan semua barang bawaanku, semuanya sudah pulang. Kantor terasa sangat sepi, dan tanpa kusadari. Ternyata sedang hujan deras diluar, aku bergegas menuju lobby. Sembari menuruni satu persatu anak tangga, aku meraih payung lipat yang ada ditas ku. Dan sesampainya di lobby, aku melihat Ainur. Ia sendirian, memandangi rerintik hujan yang deras. Aku menghampirinya, \u201cAinur?\u201d panggilku. Ia menghadap ke belakang, tebakanku benar dia Ainur. \u201cEhh bapak Mahendra? Sudah mau pulang ya pak?\u201d katanya sembari tersenyum, \u201chahaha iya nih, kamu sendiri kenapa belum pulang? Sudah jam 17.45 loh.\u201d Tanyaku penasaran setelah melihat jam tanganku, Ainur pun menjawab. \u201cHahaha hujan deras, saya tidak bawa payung apalagi hp saya sudah lowbattery pak jadi tidak bisa pesan grab atau gojek deh haha jadi kayaknya harus nunggu reda.\u201d Katanya sembari tertawa pelan, \u201ckalau begitu,\u201d \u2013 aku membuka payung ku \u2013 \u201cMau bareng sama saya? Kebetulan mobil saya ada di parkiran luar\u201d tawarku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku turun dari mobilku dan menghampirinya, \u201cAyo silahkan\u201d tawarku sembari membuka pintu mobil kursi penumpang. \u201cAstaga.. terimakasih banyak pak, maaf sekali saya merepotkan.\u201d Katanya dengan nada yang cemas, \u201chahaha gak apa \u2013 apa kok Ainur, oh iya mau sekalian makan malam bareng gak? Saya traktir deh haha.\u201d Candaku sembari tertawa dan menyalakan mesin mobil, \u201cEh.. tidak usah pak, lagipula saya masih kenyang.\u201d Katanya menolak tawaranku, \u201chahaha ya sudah kalau begitu.\u201d Tak lama pun kami sampai di rumah Ainur, \u201cini rumahmu kan?.\u201d Tanyaku sembari memberhentikan mobil, \u201ciya pak, terimakasih banyak ya.. maaf merepotkan.\u201d Pamitnya lalu menutup pintu mobil setelah turun, aku hanya memandangnya masuk kedalam rumah dari dalam mobil. Sungguh lucu sekali pikirku lalu akupun menuju rumah, sesampainya di rumah. Aku beberes dan mandi lalu terbaring dikasur, dan akhirnya tertidur pulas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa hari kemudian, aku dan Ainur bertemu lagi. Ia mengajakku untuk ke sebuah caf\u00e9 yang baru saja buka bersama sahabatnya, dan tak disangka. Eka.. Raditya.., sahabatku. Ia memiliki hubungan dengan sahabat Ainur! , jadi saat ini. Kami terasa seperti sedang kencan bersama, ternyata sebelumnya Eka sudah diajak oleh sahabat Ainur untuk ikut mencoba caf\u00e9 ini. .. suasana kami saat ini sangatlah canggung, \u201ceum pak Mahendra mau pesan apa? Mas Eka juga, nanti saya dan Elois yang pesan.\u201d Tawar Ainur yang akhirnya membuat suasana canggung pecah, selesai mencatat pesanan Ainur dan Elois pergi untuk mengantri dan memesan. \u201cSo.. backstreet huh mainnya?\u201d kataku menyinggung Eka sembari menatap sinis kearahnya, \u201ceh.. hehehe santai bro.. chill, saya jelasin dulu ya hehe.\u201d Eka menjawab dengan cemas dan mulai keringat dingin, \u201cbaru beberapa minggu kok, tapi! Yang paling penting kenapa kamu bisa sama Ainur?.\u201d \u2013 Dan entah kenapa.. tak ada angin tak ada hujan dengan reflek aku menggebrak meja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seluruh pengunjung dan pekerja di caf\u00e9 itu terdiam, semua mata mereka memandang ke arahku, wah.. sungguh sial sekali diriku. \u201cAh.. eum.. maaf hehe\u2026 saya reflek.. tadi ada nyamuk, silahkan lanjut lagi semua\u2026 haha saya minta maaf yaa.\u201d Kataku meminta maaf dan membungkukkan tubuhku, aku tersenyum paksa dan mulai menatap kesal kepada Eka. \u201cOwh.. hehe, suka ya?..\u201d Eka mengejekku, aku sudah merasa malu sungguh malu bukan main karena ejekan Eka. \u201cEka.. mau diam atau..?\u201d aku mencoba menahan amarah, \u201cHahaha iya, bercanda doang kokk.\u201d Katanya sembari tersenyum puas, sepertinya dia puas sekali mempermainkanku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan kami berempat pun berbincang panjang lebar, kami tertawa dan bercanda tanpa melihat waktu. Aku mulai merasa nyaman setiap berada disisi Ainur, tiap harinya kulewati bersama Ainur. Aku ragu disaat pertama kali bertemu dengannya namun, seiring berjalannya waktu. Sepertinya jawaban mulai menghampiriku, ia bak simfoni terakhir yang selalu ku cari. Laksana matahari dan bulan yang selalu menyinari hidupku, haruskah ku melamarnya?.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat itu kami sedang berlibur bersama, hanya kami berdua di pantai. Ia terus fokus bermain dengan ombak \u2013 ombak kecil yang saling bertabrakan, aku menghampirinya. Bukan Ainur namanya kalau tidak tersenyum lebar, ia menoleh menghadapku dan tersenyum dengan sangat lebar. Membiarkan seluruh helaian rambutnya yang selalu tergerai berterbangan dan bertabrakan. Mungkin kalian sudah muak membaca atau mendengar ini namun, aku terpesona kembali dengan Ainur. \u201cHahaha Mahendra.. \u2013 \u201c aku berlutut tepat dihadapannya membuat Ainur terkejut dengan aksiku, \u201cAinur.. bertemu dengan mu merupakan sebuah keajaiban bagiku, engkau laksana simfoni terakhir yang selalu ku cari. Aku ingin kau terus mengingatku, begitupun aku yang akan terus mengingat engkau. Dan bila alam semesta memisahkan kita, aku akan mencarimu sampai keujung dunia. Mau Lelah atau apapun itu, akan kuusahakan untuk menemui mu.\u201d \u2013 Aku meraih kotak cincin yang sedari tadi berada dikantong celanaku \u2013 \u201cMaka dengan tekad ku yang sudah bulat ini, maukah kau menemani hidupku dan mewarnainya setiap hari? Bahkan sampai ajal memisahkan kita aku akan terus memilihmu.\u201d Aku membuka kotak itu, sebuah sepasang cincin terlihat begitu elegan dan menawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ainur meneteskan air mata diwajahnya, ia mengangguk. Menjawab pertanyaan hidupku, ia menangis haru dan tersenyum. \u201cSaya mau.\u201d jawabnya, aku memeluk nya dengan erat. Kami menangis dan tertawa dikala itu, sebuah memorial yang tak pernah terlupakan. Kami melewati hidup kami dengan penuh warna dan kehangatan, sebuah keluarga impian yang selalu ku nanti. Aku menjaga Ainur bagaikan separuh jiwa dan hatinya merupakan milikku, <strong>aku selalu menjaganya<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini, aku memandang ombak lautan ganas yang saling beradu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mempertanyakan maksud dari hidupku, dan mengapa ia merebut kekasihku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2018Ainur.. kekasihku, mau kah engkau memaafkanku? Aku gagal dalam melindungimu. Aku telah mengingkar janji, Ainur maafkan aku.\u2019 Air mata tak sanggup kutahan, aku menangis sejadinya. Aku memukuli diriku sendiri, menyesal tak menghabiskan waktu lebih banyak dengan cinta dan kasihku ini. Mau seberapa banyak aku memanggil namanya, memohon ia untuk kembali. Semuanya tak akan berhasil, semuanya sia \u2013 sia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tuhan sudah mengambilnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">\u2013 KISAH BERAKHIR \u2013<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAinur, jangan pernah lupakan aku. Mungkin aku telah mengingkar janji ku dan hanya mengucapkan omong kosong namun, ingatlah.. aku hanya akan terus memilihmu. Ketahuilah bahwa aku telah mencintaimu seperti engkau adalah jiwa dan ragaku sendiri. Jadi tunggulah aku, aku akan terus mencarimu dan memenuhi janjiku\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 <strong>Mahendra Aditama<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cWahai lelakiku, Duhai kekasihku. Tak perlu menyesal dan janganlah engkau dendam terhadap hatimu sendiri, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Engkau tak pernah mengingkar janji, seluruh omonganmu itu selalu kau pegang teguh. Jika kita dapat bertemu lagi dalam kehidupan lain, aku akan menunggumu. Tak perlu terburu \u2013 buru mencariku, karena kedatanganmu akan selalu ku tunggu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 <strong>Ainur Adiratna<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pesan dari penulis:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang seniman kerap kali mengabadikan \u2018muse\u2019 mereka atau bisa diartikan \u2018inspirasi\u2019 namun, mau berapa kali kau membuat karya untuk menangkap kenangan tentang dirinya. Kau akan kalah dengan sang pencipta, karna ia akan kembali lagi kepada sang pencipta. <strong>Maka, cintailah ia bagaikan belahan jiwa dan raga dirimu sendiri. <\/strong>Jangan engkau sia \u2013 siakan satupun momen dalam hidup, saling mencintailah dan sayangi hingga kalian rela jika akan terpisahkan oleh Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan, mau ratusan atau ribuan dan jutaan karya pun. Engkau tak kan sanggup untuk menangkap keindahan milik dia sebenarnya, akan lebih indah jika dilihat dan dipandang secara langsung.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cKu aman ada bersamamu, selamanya.\u201d \u201cSampai kita tua, sampai jadi debu.\u201d \u2013 Sampai jadi debu, Banda Neira Dikala sore itu, angin berhembus dengan kuat. Membuat dedaunan para pohon berjatuhan, mereka berdansa dengan mengikuti panduan sang angin. Aku berlutut dihadapannya, mengulurkan tangan kanan ku kepadanya. \u201cHaruskah kita mulai berdansa..?\u201d tanyaku sembari mengeluarkan senyuman yang terlukis di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,7],"tags":[],"class_list":["post-83","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen-smk","category-kehilangan-dan-perpisahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=83"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83\/revisions\/84"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=83"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=83"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=83"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}