{"id":51,"date":"2024-10-29T06:11:55","date_gmt":"2024-10-29T06:11:55","guid":{"rendered":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=51"},"modified":"2024-10-29T06:11:55","modified_gmt":"2024-10-29T06:11:55","slug":"warnanya-hilang-meiza-luna-al-kayla","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=51","title":{"rendered":"Warnanya Hilang &#8211; Meiza Luna Al Kayla"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>Murahan banget, nggak sih?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>Ih, itu yang Hamidun, bukan?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>Wajar sih, cewek murah emang jelek-jelek.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata-kata itu terus bergeming di kepala Yela\u2014gadis bernetra hazel yang kini menduduki bangku kelas 11 SMA. Ia menautkan jari-jemarinya erat, perasaan takut, cemas, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Pikirannya berkecamuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasa tidak tenang menghantui bayangannya. Sejak kejadian itu, ketika dirinya ketahuan sedang mengandung janin berusia empat bulan, Yela hanya bisa menangis. Dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya,<em> \u201cDia beneran bakal tanggung jawab, kan? Dia sayang aku, kan? Dia nggak mungkin ninggalin aku, kan?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumpah serapah, cacian, dan hinaan tanpa henti Yela terima dari orang-orang terdekatnya, termasuk mama dan papanya yang sembilan bulan lalu telah resmi bercerai. Untungnya, Yela masih punya sahabat yang selalu mendengar keluh kesahnya. Seperti sekarang ini, Yela menangis sesenggukan di hadapan Rima. Berkali-kali Yela menepuk-nepuk dadanya pelan, menyalurkan rasa sakit yang selama ini ia pendam. Segala kekhawatirannya ia ceritakan pada Rima, mulai dari kondisi keluarganya, bagaimana kekasihnya, awal mula dirinya hamil, hingga saat ini cowok yang diketahui sebagai pasangannya itu tidak pernah menghubunginya lagi setelah Yela meminta pertanggung jawaban atas janin yang ada di rahimnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKuat ya&#8230; Aku di sini kok, nemenin kamu. Kita lewatin bareng ya, masalahnya,\u201d Rima tak henti-hentinya menenangkan, seolah paham betul sesakit dan sepedih apa masalah yang tengah dialami sahabatnya itu.Berjam-jam mereka habiskan untuk mencurahkan hati, sampai malam tiba dan Rima pun pamit untuk pulang ke rumahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini, Yela sendiri. Kakinya menempuh arung hidup, sekali lagi, sendirian. Kedua tangan kecil itu hampir tak sanggup menggenggam beban yang terus terlimpah padanya. Andai saja dirinya bersayap, mungkin ia akan terbang, mengadu kepada Tuhan, menangis tersedu-sedu. Tentang takdirnya yang tak kunjung cemara, tentang hidupnya yang tak kunjung bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yela terduduk, tangan kirinya memegang pulpen, jantungnya berdetak memburu, bahunya bergetar, ia terisak. Tangan kanannya menggenggam botol biru berisi kapsul-kapsul putih yang ia pegang erat-erat. Air matanya terus mengalir, napasnya tersengal-sengal. Secarik kertas putih menjadi saksi bisu betapa berat penderitaannya. Malam itu, malam Yela. Malam ketenangan Yela, malam yang mungkin ia pilih sebagai malam saat kedua matanya akan tertutup. Akhirnya, malam yang panjang&#8230; berlalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suara sirine ambulans menggema di sepanjang jalan, membelah ramainya hiruk pikuk warga yang datang karena \u2018penasaran\u2019. Riuh komentar mendadak berubah mengenang kebaikan gadis yang beberapa hari lalu ramai ditertawakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>Aku Cuma mau kasih sayang. Jadi aku jatuh dan terbuai oleh lelaki yang seolah menawarkan kasih sayangnya, padahal aku hanya tawanan birahinya belaka.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secuil kata yang ditinggalkan gadis itu di atas nakas, sibuk dipotret, dikerubungi wartawan dari balik garis kuning.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kamarnya kini menjadi ladang penyelidikan. Orang-orang mondar-mandir menduga bunuh diri atau pembunuhan. Anak dalam kandungannya ikut terpejam, meski setitik pun belum pernah dilahirkan. Gadis yang kini dibalut kain oranye khas tim forensik itu mulai digotong ke dalam ambulans. Tangis terdengar dari orang-orang yang merasa kehilangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia korban. Ditawari sejuta kasih sayang, sialnya percaya, berpikir kasih sayang sosok ayah bisa ia dapatkan dari sang lelaki pujaan. Lelaki yang mungkin sebelumnya menjanjikan akan bertanggung jawab, janji tidak akan meninggalkannya. Tak lupa dengan perkataan manis, \u201cAku sayang kamu\u201d lalu jika ditolak melakukan hal tak senonoh, akan marah dengan alibi, \u201cKamu nggak sayang aku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Naas memang, gadis itu harus pergi. Banyak yang rusak. Dunianya, nama baiknya, segalanya mendadak kelabu, sebab cinta datang membuatnya jadi debu. Dunia membeberkan, dan ia menerimanya dengan lapang. Semua yang ia punya, semua yang berharga, semuanya hilang. Mahkotanya, masa depannya, dan yang paling berharga, kehidupannya. Cacian, hinaan, semua diterimanya sendirian. Hingga semuanya jadi hitam, dan mengakhirinya menjadi pilihan.Mirisnya, bahkan raut sedih masih jelas terpajang di balik mata yang sudah sejak semalam terpejam tenang, seolah menggambarkan semua berat yang pundak tak lebar itu pikul selama ini. Hidup penuh tekanan, ketakutan, dan tipuan. Entah sudah berapa tetes air mata, entah juga sudah berapa kata yang ia lafalkan untuk menyemangati tubuh rapuhnya. Tapi&#8230; haruskah perempuan yang gila kasih sayang dimanfaatkan? Dan lelaki yang gila selangkangan, apa mereka tak punya pikiran? Lalu, jika sudah jatuh, perempuan tetap jadi tumpuan kesalahan. Katanya rusak, katanya bekas, tak ada yang mau, semua jijik, semua salahnya perempuan karena mengiyakan. Lupa? Yang merusak, yang membuatnya jadi bekas, dia juga bagian dari<em> \u2018kaum\u2019<\/em> mu. Memangnya kau Tuhan? Seenaknya menghakimi, tak mau salah, menyudutkan satu sisi. Burungmu sok suci, masuk lubang sana-sini, sok hebat. Habis menggauli lalu memberi label <em>\u201dperempuan murah mudah di tiduri\u201d. <\/em>Padahal, kau juga sama murahnya. Memang semuanya salah, jadi, semoga tak ada gadis yang mati sendiri lagi. Semoga tak ada lagi gadis yang ternodai. Semoga semua kuat. Semoga semua lelaki semakin sadar dan ingat bahwa mereka lahir dari <em>\u201cperempuan.\u201d<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cMurahan banget, nggak sih?\u201d \u201cIh, itu yang Hamidun, bukan?\u201d \u201cWajar sih, cewek murah emang jelek-jelek.\u201d Kata-kata itu terus bergeming di kepala Yela\u2014gadis bernetra hazel yang kini menduduki bangku kelas 11 SMA. Ia menautkan jari-jemarinya erat, perasaan takut, cemas, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Pikirannya berkecamuk. Rasa tidak tenang menghantui bayangannya. Sejak kejadian itu, ketika dirinya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,7],"tags":[],"class_list":["post-51","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen-smk","category-kehilangan-dan-perpisahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=51"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51\/revisions\/52"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=51"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=51"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=51"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}