{"id":33,"date":"2024-10-29T05:54:41","date_gmt":"2024-10-29T05:54:41","guid":{"rendered":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=33"},"modified":"2024-10-29T05:54:41","modified_gmt":"2024-10-29T05:54:41","slug":"sorrowful-reunion-adinda-putri-yanuarisa-tanjung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=33","title":{"rendered":"Sorrowful Reunion &#8211; Adinda Putri Yanuarisa Tanjung"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Matahari mulai bersinar terang, udara yang sejuk menerpa wajahnya. Hari ini adalah hari yang sibuk untuk mahasiswa semester akhir seperti dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menyesap kopinya yang mulai mendingin dengan matanya yang selalu berfokus pada laptopnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ia mulai tenggelam pada pikirannya sendiri suara kursi yang di geser membuyarkan fokusnya, \u201cPermisi, apa saya boleh duduk di sini?\u201d ia tersentak kaget saat mendengar suara pria yang sangat familiar di kuping nya, dia menoleh, namun aneh dia yakin dia benar benar mengenal pria asing yang sedang berdiri di depannya sekarang, \u201cYa, silahkan\u201d ia menjawab pertanyaannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang pria pun langsung duduk dan menyesap kopinya yang baru saja ia pesan, \u201cBagaimana kabar mu?\u201d pria itu bertanya pada wanita di depan nya yang terlihat asik dengan laptopnya, pria itu pun yakin bahwa dia benar benar mengenal wanita asing yang duduk di depannya saat ini. \u201cBaik\u201d sang wanita menjawab dengan singkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang pria tersenyum tipis saat mendengar jawabannya, \u201cBiasanya kamu tidak akan menjawab se singkat itu, kamu dulu sangat banyak bicara, ada apa dengan mu?\u201d ia menatap fokus wanita yang berada duduk di depannya tersebut. Sang wanita tidak melepaskan pandangan dari laptopnya dan ia menjawab, \u201cAku sibuk, lagi pula kamu ingin aku menjawab apa?\u201d mendengar itu sang pria tertawa kecil, \u201cBaiklah aku tidak akan menggangu, tapi jika kamu ingin menceritakan sesuatu padaku ceritakan saja\u201d ucap sang pria lalu menyesap kopinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendengar itu sang wanita hanya diam dan kembali fokus ke laptopnya, sejujurnya dia sadar bahwa sang pria hanya diam memperhatikan sejak tadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kecanggungan yang menyesakan ini bertahan selama beberapa menit sebelum sang pria mulai angkat bicara, \u201cSudah lama tidak bertemu kamu masih cantik ya\u201d mendengar itu sang wanita langsung mengalihkan topik pembicaraan, \u201cBagaimana tugas akhir mu? kamu selalu terlihat santai\u201d mendengar itu dari sang wanita, sang pria tertawa kecil dan ia menjawab, \u201cEntahlah, aku mulai kehilangan semangat ku, dulu biasanya kita selalu mengerjakan tugas kita bersama di kafe ini, tapi sekarang tidak\u201d sang wanita bingung dengan jawabannya, \u201cLalu? Apa hubungannya?\u201d sang pria tertawa kecil mendengar nya, \u201cAku tidak semangat karna tidak ada kamu\u201d mendengar itu sang wanita menjawab, \u201cDulu saat kita bersama kamu juga tidak mengerjakan tugas kuliah mu, kamu selalu saja pemalas, tidak berubah\u201d sang pria tersenyum mendengar jawaban sang wanita, nampaknya sang wanita tidak melupakan kebiasaan buruknya itu, \u201cAku mengerjakan nya kok, sedikit\u201d sang pria menjawab nya dengan bercanda, sepertinya dia rindu omelan dari sang wanita yang sudah lama tidak ia dengar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKamu tidak berubah ya, kamu masih pemalas. Apa kamu masih suka es krim rasa \u201cpasta gigi\u201d itu?\u201d kali ini sang wanita mulai menatap sang pria dan tersenyum tipis padanya. Mendengar itu sang pria tertawa kecil dan ia membela dirinya, \u201cHey mint choco bukan pasta gigi, se tidaknya selera ku unik tidak seperti seleramu yang pasaran itu\u201d sang wanita tertawa kecil saat mendengar nya ia pun membela dirinya, \u201cVanilla itu enak makanya banyak yang suka, itu hanya lidah mu saja yang punya selera aneh\u201d sang pria hanya tertawa kecil, ia diam untuk sementara waktu dan menghela nafasnya sebelum akhirnya ia membuka mulutnya kembali, \u201cApa yang kamu lakukan setelah semuanya selesai?\u201d sang wanita kini menutup laptopnya, sepertinya ia tertarik oleh percakapan di reuni yang tak terduga ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang wanita melihat ke arah sang pria dan mengangkat alisnya, \u201cmaksud mu?\u201d sang pria dengan cepat menjawab, \u201chubungan kita\u201d. Mendengar itu sang wanita menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaannya, \u201cJujur saja setelah itu semua, rasanya pagi jadi yang paling berat untuk ku. Kenyataan bahwa semuanya telah berbeda\u201d sang wanita menatap kedua bola mata sang pria, saat itu juga sang pria merasakan berat di dadanya namun juga merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan terhadap wanita lain. \u201cKenyataan bahwa peranku dalam hidup mu selesai itu cukup membuatku terpukul\u201d sang wanita menatap pria itu dan tersenyum hangat, \u201cNamun aku sadar hidup harus tetap berjalan, dan aku harus melepaskanmu\u201d mendengar itu sang pria terdiam, sungguh ia juga merasakan hal yang sama apa yang ia rasakan, jika waktu bisa di putar kembali ia ingin untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala, masa-masa dimana semuanya baik baik saja, masa-masa dimana mereka menikmati waktu bersama. Namun sekarang tinggal kenangan yang tersisa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTerkadang aku masih memikirkanmu. Aku berpikir haruskah aku menghubungimu? ada banyak waktu dimana aku berpikir seperti itu\u201d sang pria mengehela nafas berat sebelum melanjutkan kalimatnya, \u201cTapi aku tahu ini semua sudah berakhir\u201d mendengar kalimat yang baru saja sang pria ucapkan, sang wanita sedikit terkejut. Sang wanita berpikir jika mereka masih bisa memperbaiki hubungan mereka namun bagaikan di ajak melayang tinggi dan di hempaskan kembali ke tanah, harapan sang wanita seketika pupus saat sang pria kembali membuka mulutnya, \u201cTidak peduli berapa besar keinginan ku untuk kita kembali seperti dulu, tapi itu tidak akan bekerja lagi\u201d sang pria menatap sang wanita dengan tatapan teduh, sungguh ia masih menyayangi wanita yang duduk di depannya ini namun ia merasa tidak mungkin dan sudah terlalu terlambat untuk mengembalikan semuanya seperti dulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang wanita terdiam untuk beberapa saat, ia memutar memori indah kenangan mereka berdua seperti film masa lalu yang telah selesai, \u201cBenar, aku hanyalah masa lalu untukmu begitu pun dirimu\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka berdua terdiam sesaat, jujur saja tujuan awal sang pria menghampiri nya hayalah untuk bertegur sapa sebagai teman lama yang sudah lama tidak berjumpa, tapi ia tidak menyangka jika topik yang mereka bicarakan akan sejauh ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cApakah kamu menyesali jalan yang kamu pilih bersamaku?\u201d mendengar perkataan sang wanita, sang pria langsung menjawab tanpa ragu, \u201cTidak, kamu adalah pengalaman yang luar biasa. Aku tidak menyesalinya sama sekali\u201d mendengar itu sang wanita tersenyum tipis, \u201cTapi seperti nya semesta tidak merestui kita berdua, tapi kita harus menjadi dewasa, kita tidak bisa memaksakan takdir\u201d mendengar itu dari sang wanita, sang pria menghela nafasnya sebelum ia kembali membuka mulutnya, \u201cNamun, apakah kita memang ditakdirkan seperti itu?\u201d mendengar itu sang wanita hanya mengangkat bahunya \u201cEntahlah, tapi aku percaya kepada rencana Tuhan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Benar, mereka tidak bisa memaksakan apa yang bukan takdir mereka, yang bisa mereka lakukan hanyalah menjadi dewasa dan menerima semuanya. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap yang bernyawa pasti berpisah dan saling melupa. Tetapi jam tetap berdetik, dan hidup tetap berjalan untuk meninggalkan kedua pasangan ini menjadi masa lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah beberapa saat sang pria larut dalam lamunan, ia Kembali membuka mulutnya, \u201cSepertinya percakapan kita sampai sini saja. Aku senang bisa bertemu kembali dengan mu, aku harap kau selalu bahagia, sampai jumpa\u201d setelah mengucapkan itu sang pria tersenyum kepada sang wanita dan bangun dari kursinya untuk berjalan keluar dari kafe. Sang wanita melihat kearah punggung sang pria yang semakin lama semakin menjauh, entah kenapa ia merasakannya lagi, rasa sakit yang sudah tidak lama ia rasakan,dan tidak ingin ia rasakan lagi, rasa sakit dari kehilangan dan perpisahan. Sang wanita melihat ke luar jendela kafe. Mengapa hujan tiba-tiba turun? Mengapa pipinya menjadi basah?. Ia tidak mengerti mengapa ia menangis, bukankah ia sudah mengalami ini namun mengapa ia menangis?, dengan cepat ia menghapus air matanya, ia meyakinkan dirinya untuk tidak kembali terpaku pada masa lalu, ia yakin pasti ia akan mendapatkan yang selamanya bukan sementara, hanya waktu yang bisa menentukan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matahari mulai bersinar terang, udara yang sejuk menerpa wajahnya. Hari ini adalah hari yang sibuk untuk mahasiswa semester akhir seperti dirinya. Ia menyesap kopinya yang mulai mendingin dengan matanya yang selalu berfokus pada laptopnya. Saat ia mulai tenggelam pada pikirannya sendiri suara kursi yang di geser membuyarkan fokusnya, \u201cPermisi, apa saya boleh duduk di sini?\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,7],"tags":[],"class_list":["post-33","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen-smk","category-kehilangan-dan-perpisahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=33"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33\/revisions\/34"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=33"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=33"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=33"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}