{"id":29,"date":"2024-10-29T05:38:15","date_gmt":"2024-10-29T05:38:15","guid":{"rendered":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=29"},"modified":"2024-10-29T05:38:15","modified_gmt":"2024-10-29T05:38:15","slug":"dimana-duniaku-savara-asmadurroh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/?p=29","title":{"rendered":"Dimana Duniaku &#8211; Savara Asmadurroh"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jumat 18 juni 2021<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gadis kecil itu berdiam diri. Matanya mulai berkaca kaca sambil memandang pintu rumah sakit, dingin nya angin malam membuat seluruh badan nya menggigil. Sementara itu kepala nya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shania, seorag gadis yang berusia dua belas tahun menatap gelap nya langit malam, ia masih merasa ini mimpi buruk baginya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Flashback on<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Satu bulan yang lalu\u2026<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang bunda menghampiri Shania yang sedang asik bermain di kamar<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKa, tolong belikan bunda obat di apotik depan sana\u201d ucap sang bunda,Shania yang sedang asik bermain akhirnya mengiyakan apa yang di katakan bundanya, ia bergegas membeli obat untuk sang bunda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selang beberapa menit Shania sudah sampai rumah dengan obat titipan bunda nya, Shania bergegas ke kamar sang bunda untuk memberikan obatnya \u201cIni bun obatnya, bunda sakit? Kita kerumah sakit aja yuk bun\u201d ajak Shania. \u201cTidak usah bunda hanya sedikit pusing, besok juga bunda sudah sembuh, kamu kembali ke kamar saja\u201d gumam sang bunda, akhirnya Shania kembali ke kamar dan bermain lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selang beberapa hari, sakit sang bunda tidak sembuh sembuh akhirnya sang bunda di bawa ke klink terdekat untuk di cek, ternyata bunda terkena tipes dan merasakan sesak nafas di tubuh nya, akhirnya bunda harus di rawat sekitar 2 minggu di klinik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak kunjung sembuh dari sakitnya, akhirnya sang bunda di ajak oleh ayah untuk ke rumah sakit ,walau awalnya bunda tidak mau di rawat di rumah sakit, karena ia takut akan dikira positif covid 19. Setelah di paksa oleh sang ayah akhirnya bunda ingin di rawat ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan menuju rumah sakit nya sang bunda tidak dapat di selamatkan. Akhirnya setelah sampai di rumah sakit jasad sang bunda di masukkan ke dalam kamar mayat dan di urus agar bisa di bawa ke kampong nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara dari bunda akhirnya tiba di rumah sakit dan surat surat bunda di urus oleh nya, sambil menunggu sang ayah pulang ke rumah untuk menjemput Shania.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">02:00 AM<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSHANIA!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNIA BANGUN\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tubuh yang sedang berbaring menikmati mimpi nya tiba tiba saja di guncang kan oleh seseorang, Ayah. \u201ckenapa yah?\u201d Tanya Shania dengan mata yang belum terbuka sempurna. \u201cBunda sudah tidak ada\u201d ucap sang ayah sambil menunjukkan raut wajah yang sedih, ini pertama kali nya Shania melihat sang ayah bersedih. Shania yang awalnya belum sepenuhnya sadar dari tidur nya, ia tiba tiba membuka mata dengan kaget, air mata Shania seketika menetas, dia tidak terisak namun detak jantung nya berdegup dengan hebat, banyak pikiran yang muncul di kepala nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cmengapa bunda meninggalkan ku secepat ini\u2019<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cmasih banyak yang ingin aku lakukan bersama bunda\u201d ucap Shania dalam hati dengan penuh penyesalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cayo sekarang ikut ayah ke rumah sakit untuk membawa bunda pulang ke kampung\u201d dengan bergegas ia keluar rumah dan memasuki mobil nya. Setelah masuk ke dalam mobil, ayah Shania tak bisa lagi menahan tangisan nya yang terbendung. Sang ayah menangis histeris untuk pertama kali nya ketika seseorang yang begitu sangat ia cintai pergi untuk selamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Flashback off<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shania terasa rapuh, dunia nya terasa hilang seperti di telan bumi. Sang bunda yang selalu menemani nya sekarang sudah tidak berada di dekat nya lagi. Tangisan yang ia tahan akhirnya meledak juga, di tumpahkan begitu saja tanpa lagi dia bisa bendung. Shania tersadar bahwa kejadian dan peristiwa itu menghancurkan hatinya karena ia tak mampu mengubah keadaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selang beberapa jam akhirnya bunda bisa di bawa ke kampong halaman, Shania dan ayah berada di dalam ambulance. Di nyalakan nya sirine dan lajunya ambulance membawa sang bunda. Sejak saat itu, di usia nya yang baru menginjak umur dua belas tahun, Shania untuk pertama kalinya merasakan trauma terhadap suara ambulance.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">10 jam berlalu, saat ini Shania dan ayah sudah sampai di kampong nya tangisan Shania menjadi jadi saat turun dari ambulance ia mencari sang nenek untuk meluapkan tangisan nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selang beberapa menit setelah bunda selesai di makam kan Shania tertidur dengan pulas sebab menangis seharian penuh, ia terbangun dari tidurnya Shania masih terasa sedih karena kehilangan bunda nya, ia merasa hidup nya menjadi tidak berwarna dan ia tidak semangat untuk menjalani hidup nya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>1 tahun berlalu\u2026<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seiring berjalan nya waktu, luka pilu yang di alami Shania masih terasa di hati, kehilangan sang bunda tercinta bagaikan penyakit yang tak ada obat nya. Keluarga yang dulu nya terasa sangat hangat penuh kasih sayang, penuh dengan canda tawa kini hilang begitu saja. Ayah yang saat ini kehilangan arah, setiap hari nya ayah hanya bisa melamun di atas meja makan dengan secangkir kopi yang menemani nya. Shania yang melihat dari kejauhan begitu sedih melihat kondisi sang ayah yang hanya memikirkan bunda sepanjang hari. Akhirnya Shania memutuskan untuk mengambilkan makanan yang ada di meja makan untuk ayah nya, karena ia tahu bahwa sang ayah belum makan dari kemarin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAyah makan dulu yuk, ayah dari kemarin belum makan\u201d ajak Shania kepada ayahnya, namun sang ayah hanya menggelengkan kepala dengan tatapan mata yang kosong \u201cayo dong yah, sedikit saja ayah dari kemarin belum makan, Shania sedih kalo ayah begini terus\u201d ajak Shania sekali lagi, tapi kali ini bujukan dari Shania berhasil untuk membuat sang ayah memakan makanan nya yang ada di meja makan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu terus berlalu yang tadi nya matahari masih terlihat di langit sekarang tergantikan dengan bulan yang bersinar di malam hari. Namun, tidak dengan Shania. Shania merasa bulan malam ini berbeda. Ia merasa akan terjadi sesuatu di malam ini. Dan betul saja tiba tiba sang ayah tak sadarkan diri di kamar nya, dengan penuh ke khawatiran Shania membawa ayah nya ke rumah sakit. Namun ternyata dalam perjalanan sang ayah tak bisa di selamatkan. Malam yang buruk itu terulang untuk ke-dua kali nya. Shania menangis histeris mengapa ayah menyusul bunda dengan begitu cepat, saat ini hanya shania seorang diri, tak ada lagi kedua orang tua nya di dunia ini. \u201cayah kenapa meninggalkan nia sendirian di dunia ini, nia masih ingin ayah melihat nia sukses di masa depan nanti\u201d ucap nya dengan tangisan yang pedih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>4 tahun berlalu..<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shania yang saat ini sedang duduk di tepi pantai menikmati indah nya senja dan menatap ombak yang bergulung gulung ke tepi pantai, suara deburan ombak menjadi melodi alami yang menenangkan. Sejenak shania menikmati indah nya senja di sore hari dan menatap dari kejauhan sepasang suami istri yang mirip sekali dengan bunda dan ayah shania.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cbun.. yah\u2026 bagaimana kabar kalian disana\u201d gumam nya, sambil tersenyum melihat indahnya sepasang suami istri itu, dia pun menghembuskan napas yang panjang.\u201dbun.. yah.. nia sudah besar, nia sudah sma, setelah nia lulus dari sma nia akan berkuliah dan mewujudkan cita cita yang pernah kalian rancang untuk nia\u201d Shania menetaskan air matanya, ia kembali tersenyum lembut lalu kembali berbicara \u201c mungkin nia tidak bisa lupa dari kejadian dan peristiwa itu, tapi sebagaimana berjalannya takdir kita, nia akan tetap mencoba bangkit dari semua luka dan kejadian sebelum nya, terima kasih untuk kenangan manis yang pernah terukir indah, bunn.. yah..\u201d ucap nya dengan suara yang lembut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shania yakin , hari esok atau hari yang akan datang ia bisa mengikhlaskan kepergian kedua orang tua nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Selesai.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat 18 juni 2021 Gadis kecil itu berdiam diri. Matanya mulai berkaca kaca sambil memandang pintu rumah sakit, dingin nya angin malam membuat seluruh badan nya menggigil. Sementara itu kepala nya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi saat ini. Shania, seorag gadis yang berusia dua belas tahun menatap gelap nya langit malam, ia masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,7],"tags":[],"class_list":["post-29","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen-smpit","category-kehilangan-dan-perpisahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=29"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29\/revisions\/30"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=29"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=29"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cerpen.perpustiaraaksara.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=29"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}